Beranda Keutamaan Adab Bepergian Menurut Islam

Adab Bepergian Menurut Islam

371
2
Adab Bepergian Menurut Islam

Aminsaja.ComAdab Bepergian Menurut Islam, Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan, sehingga pasti terjadi interaksi antar individu maupun kelompok.

Mobilitas manusia sangat sulit dihindari, sehingga bepergian menjadi sesuatu kebutuhan, baik dilakukan secara sederhana, jarak yang pendek maupun dilakukan dengan jarak tempuh yang jauh.

Tujuan bepergian sangat bervariatif, mulai dari urusan dunia seperti bisnis, jual beli, menengok keluarga, dan lain sebagainya. sedangkan bepergian untuk urusan akhirat contohnya seperti Haji dan Umrah, sowan ke ulama, menuntut ilmu agama dan lain sebgainya. Bepergian yang dilarang adalah perjalanan menuju ke tempat maksiat, atau perbuatan dosa.

Sebagai muslim yang baik, maka seharusnya memahami bagaimana Adab Bepergian Menurut Islam.

Keutamaan Waktu Bepergian

Pergi untuk menjalankan berbagai aktivitas tidak dapat ditentukan waktunya secara pasti, akan tetapi sedapat mungkin jika merencanakan kegiatan dan perjalanan sebaiknya memilih waktu yang disunahkan oleh Rasulullah SAW, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sunah bepergian di hari kamis

Keutamaan bepergian di hari Kamis sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Dari Ka’ab bin Malik, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – خَرَجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ فِى غَزْوَةِ تَبُوكَ ، وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الْخَمِيسِ

Artinya: “Nabi SAW keluar menuju perang Tabuk pada hari Kamis. Dan Memang Beliau telah terbiasa untuk bepergian pada hari Kamis”. Mutafak ‘Alaih (HR Bukhari 2950)

2. Sunah beraktivitas di waktu pagi

Disunahkan beraktivitas pada pagi hari, karena Rasulullah SAW telah berdoa meminta keberkahan untuk kita semua pada waktu pagi.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Artinya: “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR Abu Dawud 2606)

3. Sunah bepergian di waktu malam

Rasulullah SAW bersabda :

 ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺪُّﻟْﺠَﺔِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻷَﺭْﺽَ ﺗُﻄْﻮَﻯ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ

Artinya: “Hendaklah kalian bepergian pada waktu (Duljah) malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam.” (HR Abu Dawud 2571)

Adab atau Tata Krama Bepergian Menurut Islam

1. Bepergian minimal 3 orang atau rombongan

Bepergian menanggung resiko, ancaman dan bahaya, untuk itu dalam bepergian dianjurkan tidak sendirian atau berdua, minimal 3 orang atau rombongan, Dari Amr Ibn Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra, Rasulullah SAW bersabda:

الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلاَثَةُ رَكْبٌ

Artinya: “Orang bepergian sendirian itu bagaikan satu setan, dua orang yang bepergian itu bagaikan dua setan, dan tiga orang bepergian itu baru disebut rombongan musafir“. (HR.Abu Dawud 2607)

2. Mengangkat Pemimpin Rombongan

Dianjurkan ketika mengadakan perjalanan secara rombongan untuk mengangkat pemimpin, Dalam mengangkat pemimpin tentu harus dipilih yang paling baik akhlaknya, ibadahnya, kesabarannya dan pengalamannya. Dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah ra, Ia berkata, Rasulullah SAW Bersabda:

إِذَا كَانَ ثَلاَثَةٌ فِى سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

Artinya: “Apabila ada tiga orang bepergian, maka hendaklah mereka memilih salah satu di antara mereka untuk menjadi pemimpin (Ketua Rombongan)”. (HR Abu Dawud : 2608)

3. Mencari Teman Yang Baik Dalam Perjalanan

Teman yang baik adalah teman yang paham ilmu Agama, sehingga ketika dalam perjalanan dapat memberikan bimbingan ibadah dan juga mengingatkan ketika terjadi kesalahan dan kekhilafan dalam perjalanan. Nabi SAW bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Artinya: “Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian memperhatikan siapa yang akan kalian jadikan sebagai teman dekat“. 

4. Memperhatikan persiapan dan keamanan

“Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu sekalian sedang bepergian dan melewati tanah yang subur maka berilah kesempatan kepada unta untuk memakan rumputnya, dan apabila kamu bepergian melewati tanah yang gersang, maka percepatlah perjalanan dan kejarlah jangan sampai unta kehabisan tenaga. Dan apabila kamu sekalian berhenti pada waktu malam, maka jangan berhenti (mendirikan kemah) di tengah jalan, karena sesungguhnya itu adalah jalanan binatang dan tempat yang sangat berbahaya pada waktu malam.” (HR Muslim:1926)

5. Shalat Sunah Safar

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:

إِذَا خَرَجْتَ مِنْ مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَخْرَجِ السُّوْءِ وَإِذَا دَخَلْتَ إِلَى مَنْزِلِكَ فَصَلِّ رَكْعَتَيْنِ يَمْنَعَانِكَ مِنْ مَدْخَلِ السُّوْءِ

Artinya: “Jika engkau keluar dari rumahmu, maka lakukanlah Shalat dua rakaat yang dengan ini akan menghalangimu dari kejelekan yang berada di luar rumah. Jika engkau memasuki rumahmu, maka lakukanlah Shalat dua rakaat yang akan menghalangimu dari kejelekan yang masuk ke dalam rumah” 

6. Pamit kepada keluarga yang ditinggalkan

Doa sesuai tuntunan Rasulullah SAW ketika berpamitan dan hendak bersafar adalah:

أَسْتَوْدِعُكَ اللَّهَ الَّذِى لاَ تَضِيعُ وَدَائِعُهُ “Astawdi’ukallahalladzi laa tadhi’u wa daa-i’ahu (Aku menitipkan kalian pada Allah yang tidak mungkin menyia-nyiakan titipannya)”

Kemudian dijawab oleh yang dipamiti dengan membaca:

زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى وَغَفَرَ ذَنْبَكَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ

7. Membaca Doa Sebelum Bepergian

Ketika keluar dari rumah untuk bepergian minimal membaca Doa sebagai berikut:

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah” 

Artinya:”Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada-Nya, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya)”.

Dapat juga ditambah dengan doa dalam kendaraan dan setelah kendaraan bergerak.

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِى الأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِى الْمَالِ وَالأَهْلِ

Artinya: “Mahasuci Allah yang telah menundukkan untuk kami kendaraan ini, padahal kami sebelumnya tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Sesungguhnya hanya kepada Rab kami, kami akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan, takwa dan amal yang Engkau ridhai dalam perjalanan kami ini. Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami ini, dekatkanlah bagi kami jarak yang jauh. Ya Allah, Engkau adalah rekan dalam perjalanan dan pengganti di tengah keluarga. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesukaran perjalanan, tempat kembali yang menyedihkan, dan pemandangan yang buruk pada harta dan keluarga” (HR Muslim)

8. Jangan Memisahkan diri dari rombongan

Terkadang dalam perjalanan ada seseorang yang sudah berpengalaman, atau merasa mampu sendiri, sehingga didalam perjalanan sering memisahkan diri, padahal yang demikian dilarang oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud No.2628. “Sesungguhnya terpisah-pisahnya kamu dalam kelompok dan lembah yang berbeda-beda adalah ajaran dari setan”

9. Saling Tolong Menolong dalam perjalanan

Dianjurkan dalam perjalanan untuk saling membantu kesulitan temanya dan saling berbagi bekal / jajanan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa yang mempunyai kelebihan kendaraan hendaklah memberikan kepada yang tidak punya, Barang siapa yang mempunyai bekal lebih, hendaklah ia memberikan kepada yang tidak punya, Beliau menyebutkan macam-macam harta dengan nada seperti itu, sehingga kami sadar bahwa sesungguhnya tidaklah pantas salah seorang di antara kami mempunyai kelebihan harta” (HR Muslim 1728)

10. Membaca dzikir pada saat naik dan turun

Dari Jabir bin Abdillah ra, beliau mengatakan:

كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا

Artinya: “Kami para sahabat ketika melewati jalanan yang naik, kami bertakbir (Allohu akbar). Dan ketika melewati jalanan yang turun, kami bertasbih(Subhanalloh)”. (HR. Bukhari 2993)

11. Berdoa ketika Dalam Perjalanan

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Artinya: “Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar) dan doa orang yang dizholimi.(HR. Abu Daud no. 1536 dan At tarmidzi:1905)

12. Mengambil keringanan / Rukhsah Dengan Sholat Jamak Qashar

Ibnu Umar ra mengatakan:

صَحِبْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لاَ يُرِيْدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رضي الله عنهم

Artinya: “Aku biasa menemani Rasulullah SAW dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.(HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)

13. Segera Pulang Jika sudah selesai urusan

Rasulullah SAWbersabda:

ﺍﻟﺴَّﻔَﺮُ ﻗِﻄْﻌَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏِ ﻳَﻤْﻨَﻊُ ﺃَﺣَﺪَﻛُﻢْ ﻃَﻌَﺎﻣَﻪُ ﻭَﺷَﺮَﺍﺑَﻪُ ﻭَﻧَﻮْﻣَﻪُ، ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﻀَﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻧَﻬْﻤَﺘَﻪُ ﻣِﻦْ ﺳَﻔَﺮِﻩِ ﻓَﻠْﻴُﻌَﺠِّﻞْ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﻫْﻠِﻪِ

Artinya: “Bepergian itu bagian dari siksa, dimana seseorang harus mengurangi makan, minum, dan tidurnya. oleh karena itu apabila seseorang telah selesai urusan safarnya, hendaklah ia menyegerakan kembali kepada keluarganya(HR.Bukhari:1804 dan Muslim:1927).

14.Makruh pulang pada malam hari

Anas ra mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لَا يَطْرُقُ أَهْلَهُ لَيْلًا وَكَانَ يَأْتِيهِمْ غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً

Artinya: “Rasulullah SAW tidak pernah mengetuk pintu pada keluarganya pada waktu malam (tatkala pulang dari safar). Beliau biasanya datang waktu siang atau sore hari.” (HR. Bukhari 1800 dan Muslim 1938)

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengatakan:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَطَالَ الرَّجُلُ الْغَيْبَةَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ طُرُوقًا

“Rasulullah SAW melarang seseorang yang telah lama melakukan safar untuk mendatangi keluarga/istrinya pada malam hari.” (HR. Muslim 1928)

15. Dianjurkan sholat di masjid terdekat sebelum masuk rumah

Dari Ka’ab bin Malik ra ia berkata:

أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالمـَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ

Artinya: “Nabi SAW jika beliau pulang dari safar, beliau langsung ke masjid kemudian salat dua rakaat didalamnya” (HR Bukhari no. 3088, Muslim no. 2769)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here