Beranda Kajian Fiqih Islam Adab Memanggil Nama Orang Lain Dan Rasulullah SAW

Adab Memanggil Nama Orang Lain Dan Rasulullah SAW

99
2
Adab Memanggil Nama Orang Lain Dan Rasulullah SAW

Aminsaja.com– Adab memanggil nama orang lain dan Rasulullah SAW adalah salah satu hal yang sejak dahulu sampai saat ini masih menjadi pembahasan di kalangan umat Islam, terutama panggilan kepada Nabi Muhammad SAW. Ada yang langsung menyebut nama “Muhammad” ada yang menyebut dengan menambahkan kata “sayyidina”.

“Sayyidina dapat diartikan sebagai tuan atau baginda dalam bersholawat kepada Nabi atau dalam menuturkan nama mulia beliau di luar sholawat.

Sebagian besar pengikut mazhab Syafi’i, selalu menambahkan kata “sayyidina” di depan nama Muhammad SAW. Kata “sayyidinâ” ditambahkan sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan seorang umat kepada Rasulnya.

Apa pentingnya nama dan bagaimana hukum memberi penghormatan dengan julukan kepada orang lain dan Nabi Muhammad SAW?

Nama yang indah adalah sunah

Salah satu kewajiban orang tua kepada anaknya yang pertama adalah memberinya nama yang baik, Nama tidak hanya sekedar identitas, tetapi nama adalah doa dan harapan orangtua kepada anaknya. oleh karena itu Rasulullah SAW menganjurkan untuk memberi nama yang baik sebagaimana sabda beliau:

”Sesungguhnya kalian dipanggil di hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka per indah lah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud)

Dilarang memanggil dengan sebutan yang buruk

Memanggil orang lain dengan sebutan yang buruk adalah sikap yang merendahkan. untuk itu Islam melarangnya sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

اَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang di olok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

Penghormatan nama adalah bagian dari adab

Memuliakan orang lain dengan penghormatan nama / julukan adalah akhlak yang baik. Banyak cara dalam upaya memuliakan dan memberi penghormatan pada orang lain misalnya panggilan “gus” atau “mas” bagi putra kyai, “raden ajeng” atau “pangeran” bagi keluarga kerajaan. Begitu pula dengan panggilan sayyid artinya tuan besar. Atau ketika MC memanggil Bupati dengan “Yang Terhormat”.

Hukum memanggil Rasulullah dengan Sayyidina

Di kalangan masyarakat sering lafal sayyidina diucapkan tatkala menyebut nama Nabi Muhammad SAW, Tujuannya adalah memberikan penghormatan, yang punya nilai kesopanan serta kesantunan kepada manusia yang paling mulia di muka bumi ini.

1. Hukumnya boleh, bahkan dianjurkan dan lebih utama

Sebagaimana keterangan di bawah ini dalam hadis shahih muslim:

حدثنا الحكم بن موسى أبو صالح حدثنا هقل-يعنى ابن زياد-عن الأوزاعي حدثنى أبو عمار حدثنى عبد الله بن فروخ حدثنى أبو هريرة قال-قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: أنا سيد ولد أدم يوم القيامة وأول من ينشق عنه القبر و

اول شافع وأول مشفع (صحيح مسلم, باب تفضيل نبينا على بعض)

Artinya: “Telah bercerita kepadaku Al-Hakim bin Musa Abu Shalih, telah bercerita kepadaku Hiql (yaitu Ibnu Ziyad) dari Al-Auza’i, telah bercerita kepadaku Abu Ammar, telah bercerita kepadaku Abdulllah bin Farruk, telah bercerita kepadaku Abu Hurairah, dia berkata: “Rasulullah SAW. Bersabda: “Aku adalah sayyid bagi manusia di hari kiamat dan orang yang pertama kali bangkit dari alam kubur, pertama kali sebagai pemberi syafaat dan yang di syafaati”.  (Shahih Muslim: bab Tafdhil Nabiyina ‘Ala Jamii’)

وقوله وأن محمدا الأولى ذكر السيادة, لأن الأفضل سلوك الأدب (الباجورى على ابن قاسم ج 1 ص 156 )

Setiap kali menyebut nama Muhammad Rasulullah SAW, yang lebih utama adalah menambah dengan sayyidina, karena lebih utama dengan jalan/cara sopan santun . (Al-Bajuri ‘Ala Ibni Qosim juz 1, hal. 156)

2. Anjuran memanggil Rasulullah SAW dengan tawadhu dan lemah lembut

Di dalam kitab Tafsir Al-Baghawi dijelaskan:

وقال مجاحد وقتادة: لاتدعوه باسمه كما يدعو بعضكم بعضا: يا محمد, يا عبد الله, ولكن فخموه وشرفوه, فقولوا: يا نبي الله, يا رسول الله, في لين وتواضع (تفسير البغوي ج 3 ص 433)

“Dan dalam kitab Tafsir Al-Baghawi, Imam Mujahid dan Imam Qotadah berkata: jangan kamu sekalian  memanggil nama Nabi dengan namanya secara langsung (wahai Muhammad), tetapi panggillah dengan penuh tawadhu dan lemah lembut”. Misalnya memanggil dengan nama keagungan dan kebesarannya: wahai Nabiyalloh, wahai Rasulullah SAW, dalam penuh lemah lembut dan tawadhu’” (Tafsir Al-Baghawi, juz 3, hal. 433)

3. Haram memanggil Rasulullah dengan langsung namanya saja

قال الشيخ ابن حجر في الجواهر المنظم: صرح أئمتنا بحرمة ندائه صلى الله عليه وسلم بإسمه (في اللأمداد وفي فتح الجواد)

Berkata: Syaikh Ibnu Hajar fii Jawahir Al-Manzdum: “Haramnya memanggil nama Rasulullah SAW  hanya disebut nama saja (tanpa diberi sayyidina atau lainnya)”.

وصريح كلام أئمتنا أنه كما يحرم ندائه صلى الله عليه وسلم بإسمه في حياته كذلك يحرم بعد مماته وصرح بذلك في الجواهر المنظم فنداء من يتلو المولد الشريف بنحو إشفع الى الله يا محمد حرام يجب تركه لكن بعد العلم به وأما قبله فيعذر فيه جاهله.

Penjelasan Imam kami (Syaikh Ibnu Hajar) “haram memanggil Rasulullah SAW dengan menyebut nama saja, di saat Rasulullah SAW hidup atau sudah meninggal”. (diterangkan dalam kitab Fii Jawahir Al-Mandzum)

Adapun menyebut nama Rasulullah SAW di dalam buku maulid atau Albarzanji yang tanpa menyebut (sayyidina) seperti (Isyfa’ ilallah Ya Muhammad), maka hukumnya haram, wajib ditinggalkan setelah tahu, tetapi apabila tidak tahu, maka dimaafkan (tidak haram). Berdasarkan dengan firman Allah SWT (Q.S. Al-Hujurat [49]: 2)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَالُكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari”.

وقال القاضي عياض أن حرمة النبي صلى الله عليه وسلم بعد موته، وتوقيره، وتعظيمه لازم، كما كان حال حياته، وذلك عند ذكره عليه السلام، وذكر حديثه، وسنته، وسماع اسمه، وسيرته

Berkata Imam Qadhi ‘Iyad:

“Wajib menghormati dan mengagungkan Rasulullah SAW, seperti di saat Nabi masih hidup walaupun beliau sudah meninggal, Begitu juga wajib mendengarkan ketika disebut salah satu hadits, nama Rasullulah SAW dan sejarahnya”.

Kesimpulannya: Tidak boleh memanggil dan menyebut nama Rasulullah SAW hanya disebut namanya  saja, akan tetapi menambahkan kalimat atau kata yang layak, seperti “sayyidina” dan lainnya. Sebab  mengeraskan suara saja melebihi  atas suaranya Nabi tidak boleh, apalagi memanggil namanya tanpa diberi kata atau kalimat yang layak, seperti “sayyidina”. Menurut ilmu usul fiqh disebut Qiyas Al-Aula. (lebih di utamakan).

Wallohu A’lam Bissowab

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here