Beranda Umroh & Haji Apa Itu Sa’i : Sejarah & Kisah

Apa Itu Sa’i : Sejarah & Kisah

103
0
Apa Itu Sa’i : Sejarah & Kisah

Apa Itu Sa’i? : sejarah & Kisah : menggambarkan bagaimana Sa’i merupakan yang merupakan salah satu rukun Haji dan Umrah yang wajib dilaksanakan oleh jamaah, apabila ditinggal maka haji atau umrahnya tidak sah.

Sa’i dilaksanakan dengan berjalan kaki bolak balik tujuh kali dimulai dari Bukit Safa dan diahiri di bukit Marwah. Perjalanan dari buit sfa ke marwah dihitung satu, dari marwah ke safa dihitung satu lagi.

Jarak antara bukit safa dan marwah sekitar ½ km sekarang sudah dihubungkan oleh bangunan panjang berlantai empat dengan lebar 20 meter.

Jalur sa’i tersebut dibagi atas empat jalur, masing-masing dua jalur untuk pejalan kaki dan dua jalur untuk orang-orang sakit yang harus didorong dengan kursi roda.

Perjalanan Sa’i ini tidaklah terlalu melelahkan karena adanya fasilitas AC dan kipas angin yang terus-menerus menghembuskan angin dingin.

Cara Melaksanakan Sa’i

Cara melaksanakan sa’i adalah dengan berjalan kaki atau bagi yang sakit dengaan cara menggunakan kursi roda, dimulai dari bukit safa dan diahiri dibukit marwah, sebanyak 7 kali. diantara pilar hijau disunahkan untuk lari-lari kecil bagi laki-laki dan untuk perempuan jalan cepat.

Seandainya dalam perjalanan lelah atau tidak kuat, Jamaah dapat beristirahat sebentar di pinggir jalur, sambil minum air Zam-zam yang tersedia di banyak tempat di sepanjang jalur Sa’i.

Jarak Tempuh Sa’i

Jarak perjalan Sa’i untuk satu kali jalan adalah 405 meter. Jadi tujuh kali perjalanan Sa’i antara dua bukit ini berarti sejauh 7 x 405 m = 2.835 meter ( 2,8 Km)

Karena pelaksanaan ibadah Sa’i merupakan ibadah yang menapak tilas pengalaman serta penderitaan yang dialami oleh Siti Hajar, maka untuk lebih khidmat dan khusu’ pelaksanaanya, maka para jamaah dianjurkan membayangkan derita dan kesulitan yang dialami oleh Siti Hajar ketika mencarikan air untuk anaknya Ismail yang ditinggal sang ayahnya Nabi Ibrahim yang dapat perintah dari Allah SWT.

Sejarah dan Kisah Sa’i

Pada Saat itu Kota Mekkah menjadi kosong setelah peristiwa banjir di zaman Nabi Nuh. Bangunan Ka’bah hanya berupa gundukan batu bundar tanpa ada seorangpun yang merawatnya.

Pada saat seperti itulah Allah SWT menghendaki Ibrahim yang tinggal di Kanaan (Palestina) pergi jauh melintas gurun pasir yang panas dan gersang membawa istri (Siti Hajar) dan bayinya (Ismail) kearah padang pasir nan jauh, yaitu di wilayah bernama Hijaz. Belakangan diketahui, di Hijaz itulah letak Baitullah, yang rusak karena banjir bah semasa Nabi Nuh.

Setelah tiba di tempat sesuai dengan perintah Allah SWT itu, Nabi Ibrahim segera bergegas kembali ke Palestina dan tanpa berkata apa-apa di tinggalkan istri dan anaknya itu.

Namun dengan cepat Siti Hajar bertanya:

“Apakah Allah SWT menyuruh agar kau lakukan ini? Ya, kalau begitu, Allah SWT pasti tidak akan menyia-nyiakan kami, sahut Hajar”.

Setelah sampai di perbatasan, Nabi Ibrahim tidak mampu menahan gejolak perasaannya yang tentu saja sangat cemas dan gundah terhadap istri serta anak yang baru lahir sebagai hasil suatu penantian yang panjang, beliau berhenti dan menghadap ke arah Ka’bah dan seraya mengangkat kedua tangannya lalu bedoa (surat Ibrahim ayat 37).

رَبَّنَآ اِنِّيْٓ اَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِيْ بِوَادٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِۙ رَبَّنَا لِيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ فَاجْعَلْ اَفْـِٕدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِيْٓ اِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِّنَ الثَّمَرٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Ya tuhan kami, sesungguhnya Aku telah menempatkan sebagian keturunan-ku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat umah Suci-Mu itu. Aku berbuat demikian ya tuhan kami, demi untuk memungkinkan mereka mendirikan shalat. Karena itu, jadikanlah hati sebagian manusia gandrung mencintainya. Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.”

(Surat Ibrahim ayat 37)

Sementara itu diriwayatkan bahwa setelah perbekalan makan dan minum habis. Siti Hajar yang bingung berusaha mencari bantuan dengan berlari ke atas bukit safa dan Marwah mengharap ada orang atau musafir yang melintas di gurun sekitar.

Dari bukit ia berjalan setengah berlari menuju bukit Marwah begitu terus berjalan bolak-balik antara dua bukit ia lakukan sampai tujuh kali.

Akhirnya setelah menaiki Marwah keempat kalinya beliau merasakan bahwa usahanya sudah optimal, lalu kembali beliau ke tempat anaknya dengan pustus asa.

Pada saat kehabisan harapan itulah serta merta datang malaikat Jibril. Melalui kaki Ismail, menghentak tanah sehingga keluarlah air Zam-zam yang mempunyai hadist dan keajaiban itu, mereka dapat hidup berhari-hari. Malah ada yang berpendapat berbulan-bulan.

Peristiwa bolak-balik antara Safa dan Marwah inilah yang diabadikan oleh umat Islam sebagai prosesi Sa’i yang termasuk dalam rangkaian Ibadah Haji dan Umrah. Kemudian lokasi kedua tempat ini di sebut Mas’a (tempat Sa’i) jarak antara Safa dan Marwah adalah 415 meter m sebagian sumber menyebut 405 dan 450 meter. Kedua bukit ini sekarang sudah termasuk bangunan Masjid Al-Haram. Namun hukum “kesuciannnya tetap berlaku terpisah bahwa lokasi itu adalah lokasi di luar masjid sehingga wanita yang sedang kedatangan haid (menstruasi) tetap moleh melakukan Sa’i.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here