Beranda Doa-Doa Praktis Bacaan Doa Setelah Shalat Tarawih

Bacaan Doa Setelah Shalat Tarawih

61
0

Aminsaja.comBacaan Doa Setelah Shalat Tarawih. Setelah salat Tarawih dan Witir perlu diketahui oleh umat muslim yang menunaikannya di bulan Ramadan. Terutama mereka yang tidak sempat ke masjid dan memilih salat tarawih di rumah. Salat Tarawih termasuk ibadah pada malam hari bulan Ramadan yang disunahkan mengerjakannya. Waktu pelaksanaan salat tarawih ini adalah setelah isya hingga mendekati subuh. Di Indonesia khusunya, umat Islam menambahkan doa dan wirid khusus usai salat tarawih dan witir yang umumnya dilakukan secara berjemaah di masjid atau musholla. Karena salat tarawih setahun sekali dilaksanakan pada bulan Ramadan yang mana keutamaan salat tarawih diterangkan dalam sabda Nabi Muhammad saw sebagai Berikut:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa yang ibadah Tarawih) pada bulan Ramadan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni baginya dosa yang telah lampau” (HR al-Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Terdapat berbagai pendapat tentang jumlah rakaat salat Tarawih. Yang umum di Indonesia adalah 8 rakaat atau 20 rakaat diikuti dengan 3 salat witir. Terkait perbedaan antara 8 rakaat dan 20 rakaat masing-masing memiliki dalil sendiri. Ulama tidak menolak perbedaan ini. Akan tetapi usai salat Tarawih dan Witir biasanya dilengkapi dengan doa dan wirid pendek yang disebut doa kamilin.

Doa kamilin ialah doa yang dibaca setelah salat Tarawih. Dan doa Kamilin tertulis dalam beberapa kitab ulama indonesia. Salah satunya di dalam kitab Majmu’ah Maqru’at Yaumiyah wa Usbu‘iyyah karya KH Muhammad bin Abdullah Faqih (pengasuh Pondok Pesantren Langitan Tuban). Doa ini dapat dikatakan sebagai bid’ah khasanah karena doa Kamilin tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Menurut Imam Syafi’i, “Perkara yang diada-adakan terbagi dua”:

Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunah Rasul, pandangan sahabat, atau kesepakatan ulama, ini yang dimaksud bid‘ah sesat.

Kedua, perkara baru yang baik tetapi tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum tersebut (Al-Qur’an dan Haits), adalah bid‘ah yang tidak tercela,” (Lihat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, hlm. 206).

Doa Kamilin bersifat universal dapat dibaca kapan pun walaupun pada hari-hari biasa selain bulan Ramadan. Selain itu, secara substansi dan makna doa ini tidak bertentangan dengan syariat Islam. Kita dapat mengambil perbandingan bahwa membaca doa terserah kehendak kita saja menggunakan bahasa Indonesia diperbolehkan. Apalagi membaca doa yang sudah diberikan oleh para ulama penerus (pewaris) para Nabi.

Dilansir dari laman Pusat Konsultasi Islam terkait Keputusan Bahtsul Masail Syuriyah NU Wilayah Jawa Timur di PP. Salafiyah Sukorejo Asembagus Situbondo, 16-17 Jumadil Ula 1400 H/ 2-3 April 1980 M, sebagai berikut:

A. Apabila doa/dzikir tersebut termasuk rukun salat, maka wajib membaca terjemahannya bagi orang yang tidak mampu berbahasa arab (ajiz).

B. Apabila doa/dzikir tersebut bukan termasuk rukun salat dan doa itu ma’tsuroh/mandubah, maka sah salatnya bagi orang yang memang ajiz.

C. Apabila doa/dzikir tersebut tidak ma’tsuroh (mengarang sendiri), maka salatnya batal secara mutlaq (baik ajiz atau bukan).

Adapun bacaan Doa Kamilin, dikutip dari buku Risalah Tuntunan Salat Lengkap oleh Mohammad Rifa’i (1976:112-114) sebagai berikut:

اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Arab Latin: Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa ‘alâ sariirl karâmati qâ’idîn. Wa bi hûrun ‘in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara salat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang rida dengan qadha-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan sahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Wallahu A’lamu Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here