Beranda Khutbah Jum'at Ciri-ciri Orang Bertaqwa Menurut Al Qur’an

Ciri-ciri Orang Bertaqwa Menurut Al Qur’an

114
0
Ciri-ciri Orang Bertaqwa

Ciri-ciri Orang Bertaqwa menurut Al Qur’an dapat dilihat dari perilaku seseorang dalam menjalan agamanya. Betapa pentingnya nilai taqwa, sehingga taqwa menjadi bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia, dan betapa tingginya derajat taqwa sehingga manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah SWT adalah orang yang paling taqwa di antara mereka.

Taqwa adalah sebuah benteng setiap muslim untuk melindunginya dari kemurkaan Allah SWT. Bagi setiap muslim yang taat melaksanakan perintah-Nya, pasti akan mendapatkan ganjaran kebaikan, begitupun sebaliknya. Dengan bertaqwa, seorang hamba akan selalu merasa cukup dengan rizki yang diperolehnya.

Seperti yang sudah diketahui, setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. Taqwa adalah menjaga jiwa dari segala perbuatan dosa atau meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah SWT. Seseorang yang bertaqwa juga akan senantiasa mentaati segala perintah-Nya.

Khutbah Pertama


الحَمْدُ لِلَّهِ نَاصِرِ اْلمُؤْمِنِيْنَ، خَاذِلِ الْكَافِرِيْنَ، مُعِزِّ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَفَاضِحِ اْلعُمَلَاءِ وَاْلمُنَافِقِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ إِمَامِ اْلمُجَاهِدِيْنَ، وَقَائِدِ اْلغِرِّ اْلمُحَجِّلِيْنَ، اْلمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهَ وَحْدَهً، نَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا شَيْءَ قَبْلَهُ وَلَا شَيْءَ بَعْدَهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ اْلكَافِرُوْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ إِمَامَنَا وَقَائِدَنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ، أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَغَ الرِّسَالَةَ، وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَكَشَفَ اْلغَمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى أَتَاهُ اْليَقِيْنُ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّه وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ * وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

أما بعد:

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Di dunia ini ada satu golongan umat manusia yang dicintai Allah SWT golongan yang akan dimudahkan jalan kehidupannya di dunia dan akan diberi kebahagiaan di akhirat, bahkan golongan ini akan diberi jalan keluar dari berbagai macam kesulitan hidup dan diberi rezeki yang tidak disangka-sangka sebelumnya. Golongan ini tiada lain yaitu golongan manusia yang disiplin, taat dan patuh terhadap aturan Allah SWT golongan yang konsekuen dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larang-Nya. Golongan ini dalam Islam disebut Muttaqin.

Marilah kita perhatikan firman Allah SWT :

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

Artinya: “Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah SWT, niscaya Allah SWT akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah SWT melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah SWT telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (QS. Atthalaq 2-3)

Berbagai macam kesulitan hidup memang akan dialami oleh setiap manusia, kesulitan hidup dalam bidang perusahaan, pekerjaan, rumah tangga, pergaulan, pendidikan, dan sebagainya. Bagi orang yang taqwa akan diberi jalan keluar untuk menyelesaikan kesulitan tersebut, minimal bisa mengurangi kesulitan itu. Oleh sebab itu, setiap jumat khatib berwasiat agar tetap bertaqwa, sebagaimana firman Allah SWT : 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah SWT sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim”. (QS. Ali Imran: 102)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Bagaimana yang disebut taqwa itu? dan manusia yang memiliki sifat dan ciri yang bagaimana yang akan diselamatkan di dunia dan diakhirat?

Ciri-ciri Orang Bertaqwa

Hadirin, banyak sekali ciri-ciri taqwa dalam Al-Qur’an, bahkan tidak kurang dari seratus macam kata yang menerangkan ciri dan sifat muttaqin itu. Di antaranya surat Ali Imran ayat 134-135 ada 4 syarat ciri muttaqin, yaitu:

1. Senang Berinfak

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ

Artinya: “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit”. (QS. Ali Imran: 134)

Apabila seorang hartawan menginfakkan hartanya ratusan ribu rupiah, kedengarannya tidak aneh. Tetapi apabila ada seseorang yang hidupnya selamanya kekurangan, tetapi dia menyisihkan harta yang sedikit itu untuk infak, maka yang seperti ini baru bisa disebut kejutan. Pantaslah Allah SWT memberi gelar muttaqin terhadap orang yang seperti ini.

Hadirin, apabila kita berbicara masalah harta atau rezeki, memang rezeki itu setiap hari dicari oleh setiap manusia; bahkan kadang-kadang dalam mencari rezeki itu manusia berusaha dengan membanting tulang, sehingga lupa shalat atau puasa. Setelah harta tersebut diperoleh bahkan berwujud menjadi emas, perak, sawah, ladang, rumah dan peralatan rumah tangga yang lengkap, disimpan dalam lemari besi atau dalam kapling-kapling, akhirnya keputusan terakhir ada dua, yaitu apabila kita tidak meninggalkan harta tersebut, maka harta itulah yang akan meninggalkan kita. Memang kenyataanya tidak bisa dipungkiri, apabila emas, perak, sawah, ladang, dan kekayaan lainnya yang awet, tentu tubuh kitalah yang tidak awet, semakin lama semakin keriput, yang akhirnya harta, tahta, dan keluarga akan ditinggalkan. Apabila kematian telah menjemput, kemudian diantarkan ke kuburan oleh harta dan keluarga ; meskipun yang mengantarkan tiga macam, tetapi yang harus ikut hanya satu macam, yaitu amal perbuatan.

Amal baik dibalas dengan kebaikan, dan yang jelek dibalas dengan siksaan sesuai dengan keterangan Allah SWT:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ  

Artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Sedangkangkan dua perkara lagi tidak mau ikut masuk ke kubur, yaitu harta dan keluarga. Mobilnya kembali lagi, bahkan tikar dan batik penutupnya pun kembali, kecuali kain putih tiga lembar yang akan menaminya di alam barzah, ini pun tidak akan lama sebab akan cepat hancur menjadi tanah. Keluarga, anak dan istri yang sangat dicintainya tidak ada yang mau ikut, semuanya kembali pulang, hartanya yang banyak hanya akan menjadi rebutan ahli warisnya.

Begitulah, apabila kita yang awet, kuat, maka kadang-kadang harta yang mendahului hilang, seperti kerana kecurian, kebakaran atau bencana alam lainnya. Oleh karena itu, Islam menjelaskan bahwa fungsi harta benda itu hanya merupakan alat untuk mengejar tujuan akhir, yaitu mardhatillah (keridaan Allah SWT bukan merupakan tujuan utama. Harta hanya merupakan alat, oleh karena itu, si muttaqin tadi baik dalam keadaan lapang maupun sempit apabila hartanya diminta, tidak pernah menolak. Meskipun hartanya berkurang, asal Allah SWT ridha, meskipun lapar, asal Allah SWT rida, inilah yang dikerjar oleh muttaqin

Imam Ghazali bertanya, mana harta milik kita yang murni? Beliau menjawabnya bukan yang ada dalam saku, bukan emas dan perak, tetapi harta yang sejati itu yang dikeluarkan untuk infak fii sabilillah, untuk amal jariyah, membangun masjid, madrasah, sekolah, jalan, rumah sakit, atau rumah yatim piatu, dan sebagainya. yang begitulah harta yang murni, bahkan harta tersebut akan terbawa ke dalam akhirat sebagimana firman Allah SWT:

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah SWT seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah SWT melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah SWT Mahaluas, Maha Mengetahui”. Al-Baqarah: ayat 261)

2. Mampu Menahan Marah

وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ

Artinya: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya”.

Setiap orang memang sering marah, sifat ini biasanya timbul apabila menemukan persoalan yang tidak sesuai dengan keinginan. Amarah ini merupakan pengaruh syaitan, sedangkan syaitan itu berasal dari api.

Ada api yang cepat menyala dan cepat padam, ada juga api yang susah menyala dan susah padam, ada api yang cepat menyala tetapi susah untuk padam, bahkan ada yang susah menyala tetapi cepat padam, dengan demikian juga manusia ada yang mudah marah tetapi mudah hilang, bahkan ada susah marah dan susah hilang.

Mengenai amarah ini Rasulullah SAW memberi petunjuk cara menghilangkan, beliau mengatakan bahwa amarah itu pengaruh syaitan, sedangkan syaitan itu berasal dari api, api biasanya kalah oleh air, maka barang siapa yang marah harus cepat berwudhu agar cepat hilang. Apabila kebetulan amarah itu datang ketika berdiri, cepatlah duduk, apabila kebetulan sedang duduk cepatlah berbaring, dengan cara demikian mudah-mudahan marah itu cepat hilang. Nah orang yang taqwa harus bisa menahan amarah.

3. Pemaaf

 وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ

 Artinya; “Dan memaafkan (kesalahan) orang lain”.

Tidak akan disebut insan apabila tidak pernah nisyan (suka lupa), tidak akan disebut manusia apabila tidak pernah salah. Yang namanya manusia pasti bebuat salah. Oleh karena itu, setiap muslim harus pemaaf. Allah SWT pun sangat pemaaf terhadap manusia.

Manusia yang taqwa yaitu yang mencontohkan sifat Allah SWT dalam hal memaafkan kesalahan orang lain.

Apa sebabnya kita harus saling memaafkan dan saling membebaskan dosa? Sebab tiada lain dosa yang tidak diminta maafnya di dunia akan menjadi beban di akhirat. Oleh karena itu, masalah saling memaafkan ini tidak bisa disepelekan oleh kita, terutama yang ingin mendapat sebutan muttaqin.

4. Selalu Ingat Alloh SWT

وَالَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً اَوْ ظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَاسْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah SWT, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah SWT? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”. (QS. Al-Imran: ayat 135)

Apabila kita akan mencari orang yang tidak pernah salah atau tidak pernah berdosa, rasanya tidak akan menemukan . Oleh karena itu, orang yang taqwa itu bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang apabila dalam satu waktu berbuat dosa dia cepat melakukan tiga perkara tadi, yaitu.

  1. Cepat berdzikir dan mengingat Allah SWT bahwa yang dilakukannya memang salah dan menyalahi aturan Allah SWT.
  2. Setelah menyadari bahwa perbuatan itu salah, dia cepat istighfar, mohon ampun kepada Allah SWT atas perbuatan dosanya.
  3. Apabila sudah beristighfar, segala dosa yang pernah dilakukannya dihentikan sama sekali, tidak pernah dikerjakan lagi.


بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم   

Khutbah kedua


اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ

 فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

 اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

  اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here