Beranda Keutamaan Hakikat dan Cara Mengendalikan Marah

Hakikat dan Cara Mengendalikan Marah

335
4
Hakikat dan Cara Mengendalikan Marah

Aminsaja.comHakikat dan Cara Mengendalikan Marah, Marah adalah sifat normal yang dimiliki oleh semua orang, tetapi sifat marah harus dikendalikan agar tidak sampai merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Marah itu bagaikan api yang tersembunyi dalam hati seperti bara di bawah abu yang muncul apabila ditiup atau ada yang memicunya.

Amarah yang tidak terkendali akan menjadi sumber keburukan dan bahkan kejahatan serta dendam, sebagaimana sifat api yang panas, seseorang yang dikuasai amarah dapat kehilangan akal sehatnya.

Karena jeleknya sifat marah maka kita perlu memahami apa itu hakikat marah dan bagaimana cara mengendalikannya.

Hakikat Marah

Hakikat manusia diberi sifat marah adalah untuk membela diri. ia adalah kekuatan yang timbul dari batinya. Apabila ada pemicunya, maka sifat marah akan bereaksi keras terhadap lawannya, jiwa bergejolak sehingga darah di jantung seperti mendidih dan tersebar dalam urat-urat dan sampai naik ke atas badan. Apabila tertuang dalam kulit maka akan berubah menjadi merah.

Apakah Rasulullah SAW Punya sifat Marah?

Marah adalah sifat manusia, hanya ada yang mampu mengendalikan dan ada yang tidak mampu mengendalikan. bagaimana dengan Rasulullah SAW? apakah beliau punya sifat marah?

dijelaskan dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, diriwayatkan bahwa Aisyah ra. pernah marah, maka nabi SAW berkata, “telah datang setanmu”. Aisyah berkata, “Apakah bagimu juga ada setan?”. Nabi menjawab, “Ya, tetapi aku berdoa kepada Allah SWT agar menolongku untuk melawannya sehingga aku selamat. Maka, ia tidak menyuruh, kecuali dengan kebaikan”

Ali Ra berkata: “Nabi SAW tidak marah karena urusan duniawi”. Apabila Beliau marah itu dikarenakan membela kebenaran.

Derajat manusia ketika sedang marah

1. Kurang

yaitu hilangnya kekuatan marah, kondisinya lemah. yang seperti ini tercela. Asy Syafi’i berkata: “Barang siapa yang dibangkitkan kemarahannya, sedang ia tidak marah, maka ia adalah keledai”.

2. Wajar

Yaitu ketika ada yang memicu kemarahan dalam dirinya, maka sikapnya i’tidal (adil/seimbang) dan proporsional. Dalam kondisi tertentu marah dan keras, tetapi dalam kondisi lainnya bersifat lemah lembut. Sebagaimana yang digambarkan oleh Allah SWT pada para sahabat Rasulullah SAW.

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗوَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ

Artinya: “Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS. Al-Fath:29)

3. Berlebihan

Yaitu sikap pada saat marah yang melampaui batas sehingga mengalahkan pelakunya dan berakibat tidak dapat dikendalikan oleh akal maupun petunjuk syara’, perangainya berubah menjadi buruk.

Hadits Tentang Marah

1. Tidak mudah marah adalah wasiat Nabi SAW

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْصِنِيْ ، قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). فَرَدَّدَ مِرَارًا ؛ قَالَ : (( لَا تَغْضَبْ )). رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Artinya: “Dari Abu Hurairah Ra bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku.” Sabda Nabi SAW: “Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau mudah marah.” (HR Bukhari).

2. Orang Kuat adalah yang mampu menahan marah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ”.

Artinya: “Dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya di kala sedang marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

3. Menahan marah agar masuk surga

Dari Abu Darda Ra Rasulullah SAW bersabda:

لاَ تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ

Artinya: “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani).

4. Pandai mengendalikan marah akan dapat balasan bidadari di surga

Dari Mu’adz bin Anas Al-Juhani Ra, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوْسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ مَا شَاءَ.

Artinya: “Barang siapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Cara Mengendalikan Amarah yang bergejolak

Cara mengatasi marah yang bergejolak bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan Ilmu dan dengan amal.

Dengan Ilmu

Dari Ibnu ‘Abbas RA Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Artinya: “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.” (HR Ahmad dan Bukhari).

Diam dalam hal ini adalah merenung, maka cara mengatasi marah dengan ilmu adalah sebagai berikut:

  1. Dengan mengingat pahala dan keutamaan jika dapat menahan marah, memaafkan dan bersikap ramah. Pertama berpikir tentang ayat atau hadits Nabi tentang keutamaan menahan amarah, sehingga dirinya terdorong untuk menggapai pahalanya, dan mencegah dirinya untuk membalas, serta dapat memadamkan amarahnya.
  2. Menakut-nakuti dirinya dengan hukuman Allah SWT serta mengetahui bahwa Allah SWT lebih mampu melakukan itu terhadapnya daripada dirinya terhadap orang lain. Dan menakut-nakuti diri dengan siksa Allah bila ia tetap meluapkan amarahnya. Apakah ia aman dari murka Allah di hari kiamat? Padahal ia sangat membutuhkan pengampunan.
  3. Berpikir akan akibatnya, melampiaskan marah hanya akan menimbulkan kebencian baru. musuh bisa saja balas dendam. Takut-takutilah diri sendiri dengan dampak (buruk) amarah di dunia, bila ia belum bisa takut dari siksaan di akhirat kelak
  4. Berpikir bagaimana buruknya muka ketika marah. Bayangkan bagaimana raut muka orang lain saat marah, berpikirlah tentang buruknya marah di dalam dirinya, berpikirlah bahwa saat marah ia seperti anjing yang membahayakan dan binatang buas yang mengancam, berpikirlah untuk menyerupai orang ramah yang dapat menahan amarah layaknya para nabi, wali, ulama dan para bijak bestari.
  5. Berpikir tentang sebab yang mendorongnya untuk membalas dan mencegahnya dari menahan amarah.

Dengan Amal

Al-Imam al-Ghazali sebagaimana dikutip Syekh Jamaluddin al-Qasimi mengatakan:

وَأَمَّا الْعَمَلُ فَأَنْ تَقُولَ بِلِسَانِكَ: أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، وَإِنْ كُنْتَ قَائِمًا فَاجْلِسْ، وَإِنْ كُنْتَ جَالِسًا فَاضْطَجِعْ، وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَوَضَّأَ بِالْمَاءِ الْبَارِدِ؛ فَإِنَّ الْغَضَبَ مِنَ النَّارِ، وَالنَّارُ لَا يُطْفِئُهَا إِلَّا الْمَاءُ.

Artinya: “Adapun (mengatasi amarah dengan) amal, katakanlah dengan lisanmu, A’ûdzu billâhi minasy syaithânir rajîm (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk). Bila engkau berdiri, duduklah. Bila engkau duduk, tidurlah miring. Disunahkan berwudu dengan air yang dingin, sesungguhnya kemarahan adalah dari api, sedangkan api tidaklah bisa dipadamkan kecuali dengan air.” (Syekh Jamaluddin al-Qasimi, Mau’ihhah al-Mu’mini min Ihya’ Ulum al-Din, hal. 208).

Secara sederhana dapat kami jelaskan bahwa langkah-langkah atau cara menahan amarah dengan amal adalah sebagai berikut:

  1. Membaca ta’awudz
  2. Ambil posisi lebih rendah, jika sedang berdiri duduklah, jika sedang duduk berbaringlah
  3. Berwudu dengan air dingin

Wallohu A’lam Bissowab

4 KOMENTAR

  1. Terimakasih, nambah pengetahuan, dan semoga dengan mengerti efek negatif marah dan efek negatifnya saya bisa mengendalikan diri saat marah 🙏🙏🙏💪💪💪

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here