Beranda Aminsaja News Haramkah Makan Laron

Haramkah Makan Laron

29
0
Haramkah Makan Laron

Aminsaja.com Haramkah Makan Laron. Mengenai hukum makan laron ulama sepakat haram dan dikenal dalam bahasa Arab dengan kata ardlah. Laron termasuk ke dalam ordo archyptera atau isoptera yang memiliki ciri ciri di antaranya: berupa tubuh lunak, memiliki dua sayap yaitu sayap depan berupa sayap yang agak menebal seperti kulit, bersifat hemitabola, memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama, tipe mulut mengunyah, dan cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu yang disebut polimorfisme. Sedangkan pembagian tugas pada struktur hidupnya berupa raja, ratu, dan prajurit serta tentara.  Siklus hidup dari isoptera mengalami metamorfosis tidak sempurna berupa telur, nimfa, dari nimfa akan menjadi prajurit, pekerja, dan nimfa fertile, kemudian dari fertile akan menjadi laron dan terlepas sayapnya, mengalami seleksi menjadi kasta reproduksi (raja dan ratu).

Sedangkan Belalang adalah serangga herbivora dari sub ordo caelifera dalam ordo orthoptera (insecta bersayap lurus) dengan ciri-ciri yaitu memiliki dua pasang sayap (sayap depan lurus, tebal dan kaku, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput), mengalami metamorfosis tidak sempurna, tipe mulut menggigit, kaki paling belakang membesar, tubuh yang terdiri dari buku-buku pada tubuhnya, adanya antena khusus yang berukuran sedang hingga pendek.

Dan juga Gangsir menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah serangga (jangkrik) yang suka mengorek tanah untuk membuat lubang sebagai tempat tinggalnya. Gangsir termasuk ordo orthoptera seperti belalang. Dan kami cantumkan beberapa dalil yang berkaitan dengan persoalan halal dan haram makanan.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا

Artinya: “Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di Bumi untukmu sekalian.” [QS. al-Baqarah (2): 29]

يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي اْلأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di Bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” [QS. al-Baqarah (2): 168]

Dalam suatu hadits disebutkan:                              

عَنْ سَلْمَان الْفَارِسِي قَال سُئِلَ رَسُولُ اللهِ عَنِ السَّمَنِ وَالْجُبْنِ وَالْفِرَاءِ قَال الْحَلاَلُ مَا أَحَلَّ اللهُ فِيْ كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللهُ فِيْ كَتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

Artinya: “Dari Salman al-Farisi, beliau  berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang lemak, keju dan keledai liar. Beliau  bersabda “Sesuatu yang halal itu adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya dan sesuatu yang haram itu adalah apa yang diharamkan Allah dalam kitab-Nya, dan apa yang Allah diamkan (tidak disebutkan) berarti termasuk apa yang dimaafkan (dibolehkan) untuk kamu.” [HR. Ibnu Majah hadits no. 3367 dalam kitab makanan bab memakan lemak dan keju].

Sejalan dengan dalil-dalil di atas, disebutkan dalam kaidah fiqh:

اْلأَصْلُ فِيْ الْأَشْيَاءِ الْأِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

Artinya: “Hukum asal segala sesuatu adalah boleh, sepanjang belum ditemukan dalil yang menunjukkan atas keharamannya.”

Nah! bagaimana hukum mengonsumsi laron? Kalau mengacu pada ibarat yang disebutkan dalam kitab Al-Hayawan Al-Kubra hewan tersebut hukumnya, karena tergolong hewan yang menjijikan  sebagaimana keterangan sebagai berikut:

الآرضة- دويبة صغيرة كنصف العدسة ، تأكل الخشب ، وهي التي يقال لها السرفة ، بالسين والراء المهملة والفاء . وهي دابة الأرض التي ذكرها الله تعالى في كتابه – ولما كان فعلها في الأرض أضيفت إليها قال القزويني في الأشكال : إذا أتى على الأرضة سنة ، تنبت لها جناحان طويلان ، تطير بهما – ومن شأنها أنها تبني لنفسها بيتا حسنأ ، من عيدان تجمعها مثل غزل العنكبوت ، متخرطا من أسفله إلى أعلاه الحكم : يحرم أكلها لاستقذارها

Artinya: “Ardlah (rayap/laron) adalah hewan kecil seukuran separuh dari biji ‘adas (sejenis kacang), pemakan kayu dikenal juga dengan nama sarfah, hewan ini adalah hewan merayap di bumi yang disebutkan Allah dalam Al-Qur’an. Hewan ini disebut dengan ardlah karena tingkah khasnya di tanah, maka namanya disandarkan pada tanah (ardl). Imam al-Qazwiny berkata dalam kitab al-Isykal, ‘Ketika ardlah memasuki umur 1 tahun, maka tumbuh dua sayap panjang yang ia gunakan untuk terbang. Sebagian karakternya, ia mampu membangun untuk dirinya sarang yang bagus dari potongan-potongan kayu yang ia kumpulkan, sebagaimana pintalan sarang laba-laba yang terkatung dari bawah ke atas. Hukum mengonsumsi hewan ardlah adalah haram karena hewan ini dianggap menjijikkan (menurut orang Arab).” (Syekh Kamaluddin ad-Damiri, Hayat al-Hayawan al-Kubra, juz I, hal. 35).

Semoga artikel ini bermanfaat. Amien

Wallahu A’lamu Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here