Beranda Doa-Doa Praktis Harta Dalam Pandangan Islam

Harta Dalam Pandangan Islam

50
0
Harta Dalam Pandangan Islam

Aminsaja.com – Semua orang senang dengan yang namanya harta, tak terkecuali, siapapun dia. Allah menghadirkan rasa senang pada manusia terhadap harta, dalam semua bentuknya. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 14 sebagai berikut:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Dan juga disebutkan dalam firman Allah di surat Al-Fajr ayat 20

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Artinya: “Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”.

Bagaimana seharusnya seorang mukmin memposisikan harta benda? Mari kita perhatikan tuntunan Allah dan Rasul-Nya dalam memposisikan harta.

Pertama: Pemilik mutlak harta adalah Allah swt. Dialah, Allah, Dzat yang maha kaya (Al-Ghaniy), semua yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah swt. Dan semuanya akan kembali kepada Allah. Sebagai pemilik mutlak, Allahlah yang berhak untuk mengatur harta itu harus digunakan untuk apa saja. Adapun manusia, kepemilikannya hanyalah titipan dari Allah. Kapan pun pemilik akan mengambilnya, manusia selaku pihak yang dititipi harus ridha untuk menyerahkannya. Diterangkan dalam firman Allah SWT:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحًا حَتَّىٰ يُغْنِيَهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَالَّذِينَ يَبْتَغُونَ الْكِتَابَ مِمَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ فَكَاتِبُوهُمْ إِنْ عَلِمْتُمْ فِيهِمْ خَيْرًا ۖ وَآتُوهُمْ مِنْ مَالِ اللَّهِ الَّذِي آتَاكُمْ ۚ وَلَا تُكْرِهُوا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا لِتَبْتَغُوا عَرَضَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَمَنْ يُكْرِهْهُنَّ فَإِنَّ اللَّهَ مِنْ بَعْدِ إِكْرَاهِهِنَّ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu. Dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan duniawi. Dan barangsiapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu”. (An-Nur 33)

Dengan menyadari hal ini, seorang mukmin akan senantiasa menjaga harta titipan Allah dengan sebaik-baiknya, tidak digunakan kecuali atas izin dan arahan Allah sebagai pemilik. Sangat tidak pantas manakala seseorang menggunakan harta tanpa sejalan dengan keinginan pemiliknya. Harta yang ada pada manusia, statusnya antara lain adalah sebagai : titipan Allah, sebagai perhiasan hidup, sebagai ujian keimanan, bekal untuk beribadah, dan kenikmatan yang harus disyukuri.

Layaknya seseorang yang menitipkan sesuatu, pasti dia berharap barang titipannya akan dijaga dengan sebaik-baiknya, dan dia pasti percaya pada orang yang dititipi. Kepercayaan yang telah diberikan, jangan sampai dikhianati, yang membuat kemurkaan orang yang menitipkan. Allah berfirman sebagai berikut:

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar”. (Al-Hadid ayat 7).

Pada sisi yang lain, harta itu juga merupakan perhiasan hidup di dunia. Semua perhiasan akan membuat seseorang yang memakainya akan kelihatan lebih indah, lebih cantik atau lebih ganteng. Demikian juga dengan harta, keberadaannya boleh jadi akan membuat seseorang kelihatan lebih “ indah”. Namun harus dipahami bahwa yang namanya perhiasan itu akan terlihat indah manakala dikenakan secara seimbang dan proporsional, sesuai kewajaran dan kebutuhan. Jika berlebihan, maka keindahan itu akan menjadi hilang. Maka seseorang boleh bersenang senang dan berhias dengan harta bendanya di dunia, tapi tidak boleh berlebihan, dan membuatnya lalai dari mengingat pemilik harta yang sesungguhnya, yakni Allah swt. Allah berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ, حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Artinya: “Telah membuat kalian lalai, upaya memperbanyak harta, hingga kalian masuk liang kubur”
(QS at-Takatsur;1-2).

Harta juga merupakan ujian keimanan bagi seseorang. Allah berfirman dalam Al-Qur’an: 

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.

Sejauh mana harta titipan Allah yang ada padanya, membuat dirinya makin dekat dan beriman kepada Allah SWT atau justru malah menjauhkannya dari keimanan dan ketaatan kepadanya. Kisah yang Allah ungkap dalam Al-Quran, di antaranya adalah kisah tentang kepemilikan harta yang justru telah membuat Qarun menjadi semakin jauh dari keimanan dan ketaatan, hingga akhirnya Allah SWT membenamkan seluruh kekayaan Qarun ke dalam perut bumi. Manusia pada zaman sekarang, sering berseloroh telah menemukan harta karun, manakala mendapatkan harta dari perut bumi. Itulah kesudahan Qarun, harta telah membuatnya jauh dari Allah.

Kisah Tsa’labah yang hidup di zaman Rasulullah Muhammad SAW juga menjadi pelajaran bagi kita agar terus bersyukur dan mengelola harta sesuai kehendak Allah, tidak membuat lalai dari ibadah. Ternak Tsa’labah yang banyak da terus bertambah, sempat membuat jauh dari kebiasaan shalat berjamaah di masjid yang selama ini telah menjadi kebiasaannya.

Selain kisah tersebut, ada juga kisah tentang kepemilikan harta yang menjadikan dirinya tetap taat dan dekat serta meningkatkan keimanannya kepada Allah SWT. Misalnya kita bisa mendapatkan kisah tentang kesuksesan nabi Sulaiman dalam mengelola kekuasaan dan harta kekayaan yang berlimpah dalam bentuk istana megah dan lainnya. Semua harta dan kekuasaan tersebut tidak melenakannya, justru malah membuat nabi Sulaiman semakin giat dalam menjalankan perintah dakwah dari Allah. Hal ini tergambar dalam usahanya untuk mengajak Ratu Bilqis dari kerajaan Saba untuk beriman kepada Allah SWT.

Harta juga merupakan bekal agar manusia dapat beribadah dengan sebaik-baiknya. Allah berfirman:

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”. (At-Taubah ayat 41)

Seluruh ibadah yang Allah perintahkan kepada kita, dalam kadar tertentu dan berbeda-beda, membutuhkan bekal materi/harta. Yang jelas-jelas terlihat membutuhkan bekal atau modal harta, misalnya menunaikan ibadah haji, berperang atau berjihad di jalan Allah membutuhkan perbekalan kendaraan transportasi perang, persenjataan dan perbekalan makanan dan obat-obatan. Demikian juga dengan pelaksana zakat. Hal ini jelas berkaiatan dengan kebutuhan untuk memiliki harta, sebagai bekal ibadah. Shalat yang kita lakukan, sesungguhnya juga membutuhkan modal harta, meski dalam jumlah yang tidak sebanyak untuk menunaikan ibadah haji. Untuk bisa melaksanakan shalat dengan baik dan sempurna serta khusyu, kita harus memiliki pakaian dan atau mukena yang dapat menutup aurat dengan sempurna, demikian juga dengan kondisi tubuh yang sehat dan kuat, insya Allah bisa shalat dengan husyuk. Untuk bisa sehat kita membutuhkan makanan yang bergizi, yang berarti kita membutuhkan harta.

Dengan adanya harta, Allah SWT juga memerintahkan kepada kita untuk bisa mensyukuri nikmatnya. Allah ingin melihat siapa di antara hamba-Nya yang mampu mensyukuri nikmatnya. Maka Allah akan melimpahkan tambahan kenikmatan padanya. Syukur adalah amalan yang sangat besar. Dan hanya sedikit di antara hamba yang mampu bersyukur. Waqaliilan min ibadi yasyakuur. Dan sedikit dari hamba-Ku yang pandai bersyukur.

Kepemilikan harta bagi seseorang, dapat diperoleh melalui berbagai jalan, yaitu melalui usaha, bekerja, maisyah, melalui pewarisan atau mendapatkan harta waris, melalui hibah/pemberian, dan bisa juga kepemilikan tersebut. Allah swt memerintahkan hambanya untuk bekerja atau berikhtiar mencari penghidupan, menjemput rezeki Allah SWT. Dalam kerja dan ikhtiar ini ada pahala yang Allah sediakan, apalagi bagi seorang suami, kepala keluarga, kewajiban memberikan nafkah untuk istri dan anak-anaknya, mengharuskannya untuk ikhtiar menjemput rezeki dengan sebaik-baiknya, dan dia akan berdosa jika tidak melakukannya. Namun satu hal yang harus kita sadari dan pahami adalah, harta dan rezeki yang berikan kepada hamba-Nya, tidak selalu berbanding lurus dengan kerja keras yang telah dilakukannya. Tetapi sunnatullah memang tetap berlaku, man jadda wajadda, siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkan. Peru dipahami, bahwa ada karunia Allah yang datang tanpa diduga, dan tidak terkait dengan kerja seseorang… min haitsu laa yahtasib. Sebagian ulama kemudian membedakan istilahnya. Ada istilah kasab, yakni harta yang didapat seseorang yang sejalan dengan kerja dengan ikhtiarnya, misalnya seorang pegawai setiap bulan akan mendapatkan gaji, ini menjadi kasab, dan ada istilah rezeki, adalah harta yang diperoleh seseorang tidak terkait dengan pekerjaannya, dan tidak terduga-duga datangnya. Demikianlah seorang mukmin semestinya dapat memandang dan menggunakan harta sesuai perintah pemilik aslinya , Allah SWT.

Semoga kesenangan akan kita dapatkan, bukan hanya di dunia , tapi juga kesenangan dan kebahagiaan di akhirat. Amin.

Wallahu A’lamu Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here