Beranda Kajian Fiqih Islam Hukum Kurban dan Syarat-Syaratnya

Hukum Kurban dan Syarat-Syaratnya

56
0
Hukum Kurban dan Syarat Syaratnya

Aminsaja.comHukum Kurban dan Syarat-Syaratnya. Kurban adalah ibadah yang berkaitan dengan hewan ternak serta disunnahkan untuk umat islam. Sedangkan hukum berkurban ada beberapa pendapat ulama bahwa kurban, ada yang mengatakan sunnah dan ada yang mengatakan wajib. 

Namun, jika ditilik dari beberapa sabda Rasulullah SAW ibadah kurban atau menyembelih hewan ternak di waktu tertentu memiliki hukum sunnah muakad. Sedangkan sunnah muakad merupakan hukum sunnah yang telah dianjurkan oleh Rasulullah, sehingga jauh lebih baik apabila dilaksanakan. Sedangkan dasar ulama yang menyatakan ibadah kurban merupakan ibadah wajib didasari dari surat Al-Kautsar ayat 2 dengan keterangan sebagai berikut:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: “Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)”

Selain itu, terdapat dasar lainnya yang menyatakan bahwa kurban merupakan ibadah sunnah muakkad, yakni sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan. Lantas, apa dasarnya? Dasarnya adalah hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah yang memiliki arti yang sangat jelas, yakni sebagai berikut:

Artinya: “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat salat kami” (HR. AHMAD DAN ibnu Majah)

Dari situ, dapat ditangkap bahwa jika mampu harus berkurban, namun apabila belum mampu maka tidak menjadi dosa jika tidak berkurban.

Syarat Hewan Kurban

Setelah mengetahui apa itu kurban dan hukum melaksanakannya, tidak ada salahnya menambah pengetahuan tentang syarat hewan kurban, kemudian hewan yang dilarang untuk dijadikan kurban, serta hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih calon hewan kurban. Pasalnya, ini merupakan hal penting yang tidak boleh dilewatkan, karena menjadi pertimbangan sah dan tidaknya kurban. 

1.   Syarat Hewan Kurban

Sebelum berkurban, mengetahui syarat-syarat hewan yang dapat disembelih sebagai kurban adalah hal wajib. Pasalnya, ini akan menjadi tolak ukur sah dan tidaknya ibadah kurban yang dilakukan, karena jika tidak memenuhi syarat maka kurbannya tidak sah.

Lantas, apa saja syarat-syaratnya? Berikut daftarnya:

  • Hewan kurban harus berasal dari jenis hewan ternak yang tentunya halal dalam hukum Islam, seperti unta, sapi, kambing, baik kambing biasa maupun domba. 
  • Hewan yang akan dikurbankan harus sudah sampai usia yang ada dalam syariat berupa jadza’ah (berusia setengah tahun) dari domba atau tsaniyyah yang berusia setahun penuh dari yang lainnya. 
  • Sedangkan jika mengkurbankan unta, maka ats-tsaniyah yang sempurna adalah berusia 5 sampai dengan 6 tahun. 
  • Apabila mengkurbankan sapi, usia yang tepat dan sempurna adalah sekitar 2 tahun.
  • Untuk kambing ats-tsaniy yang paling sempurna ialah kambing yang berusia 1 sampai dengan 2 tahun. 
  • Al-Jadza’ah dari domba yang telah sempurna untuk dijadikan hewan kurban ialah yang berusia setidaknya 6 bulan. 
  • Hewan yang dikurbankan harus bebas dari aib atau cacat yang dapat mencegah keabsahannya, yakni apa yang sudah dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW. 

2.   Hewan yang Dilarang Dijadikan Kurban

Apabila ditilik dari berbagai macam pemahaman para ulama mazhab atau dari hadist-hadist yang menerangkan, ternyata ada setidaknya 18 sifat binatang yang tidak diperbolehkan digunakan untuk berkurban. Apa saja itu? Simak berikut ini:

  • Al-Amya: hewan yang tidak memiliki penglihatan sama sekali pada kedua matanya atau disebut dengan buta total. 
  • Al-Aura Al Bayyin ‘Uruha: buta satu mata namun buta total.
  • Maqthu’ah al-Lian Kulliha: hewan ternak yang memiliki lidah namun terputus, sehingga termasuk kategori aib atau cacat. 
  • Maqthu’ah Ba’dh al-Lisan: hewan dengan lidah yang sebagian sudah putus. 
  • Al-Jad’a: hewan ternak yang memiliki hidung terpotong alias tidak sempurna pada bagian tersebut. 
  • Al-Arja’ al-Bayyin ‘Urjuha: hewan ternak yang tidak bisa berjalan sama sekali, misalnya tidak mampu berjalan dari tempat awal menuju ke tempat penyembelihan berlangsung. 
  • Al-Jadzma: Hewan ternak yang tidak memiliki tangan atau kaki depan, kemudian kaki belakang, keseluruhan atau sebagian, baik kategori cacat kemudian maupun cacat dari bawaan lahir. 
  • Al-Jadzza’: hewan ternak yang berjenis kelamin betina, kemudian ujung susunya terputus atau kering karena tidak bisa memproduksi susu.
  • Maqthu’ah al-Ilyah: hewan yang memiliki ekor terputus, namun apabila bawaan sejak lahir maka diperbolehkan. 
  • Maqthu;’ah al Miqdar al-Katsir Min al-Ilyah: hewan ternak yang memiliki ekor dan sebagian besar ekornya terputus, sehingga meninggalkan sebagian kecil ekor saja. 
  • Maqthu’ah al-Dzanab: hewan ternak yang tidak memiliki bagian bawah atau bagian paling belakang dari tulang punggungnya atau terputus / patah. 
  • Maqthu’ah al Miqdar al-Katsir Min al-Dzanab: hewan ternak yang sebagian besar dzanabnya tidak ada. 
  • Al-Maridhah al-Bayyin Maradhuha: hewan yang sakit.
  • Al-Afja Ghair al-Munquyah: hewan yang memiliki penyakit tergolong parah, khususnya pada bagian dalam tulang / sumsum dengan ditandai tidak mampu berjalan atau tanda-tanda lainnya yang memperlihatkan kondisi lemah. 
  • Musharramah al-Athibba: hewan yang tidak mampu memproduksi susu dikarenakan sakit, meskipun sudah pernah diobati dan sudah dinyatakan sembuh alias terbebas dari penyakitnya. 
  • Al-Jallalah: hewan ternak yang telah lama dikurung, kemudian memakan kotorannya sendiri karena tidak ada makanan lainnya. 

3.   Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan Hewan Kurban

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih hewan kurban, agar tidak terjadi masalah ketika sudah disembelih dan sah kurbannya. Apa saja hal itu? Cek di bawah ini:

  • Hewan yang hendak dikurbankan harus benar-benar milik orang yang hendak berkurban atau minimal sudah diperbolehkan baginya untuk berkurban dengan hewan tersebut. Maka dari itu, kurban akan tidak sah hukumnya apabila hewan yang dikurbankan merupakan hasil merampok atau milik dua orang yang berserikat, kecuali sudah mengantongi izin. 
  • Hewan kurban tidak ada hubungannya dengan hak orang lain, yang berarti hewan bukan hasil gadai maupun warisan sebelum warisannya dibagi. Apabila tetap mengurbankan hewan tersebut, maka dapat dipastikan kurbannya tidak sah. 
  • Penyembelihan hewan kurban harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat, yakni pada Hari Raya Idul Adha, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Apabila menyembelih hewan kurban pada waktu selain waktu tersebut, maka ibadah tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kurban alias tidak sah. 

Wallahu A’lamu Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here