Beranda Kajian Fiqih Islam Infus Dan Suntikan Pada Saat Berpuasa Di Bulan Ramadan

Infus Dan Suntikan Pada Saat Berpuasa Di Bulan Ramadan

178
0
Infus Dan Suntikan Pada Saat Berpuasa Di Bulan Ramadan

Aminsaja.com Infus Dan Suntikan Pada Saat Berpuasa Di Bulan Ramadan. Infus adalah masuknya suatu cairan atau obat ke dalam tubuh melalui rute intravena dengan laju konstan selama periode waktu tertentu. Dan  Infus juga dilakukan untuk seorang pasien yang membutuhkan obat sangat cepat atau membutuhkan pemberian obat secara pelan tetapi terus menerus. Sedangkan pemberian obat atau cairan ke dalam tubuh melalui mulut akan memasuki proses pencernaan terlebih dahulu sehingga tidak dengan cepat diserap oleh tubuh.

Suntikan adalah salah satu alat berobat untuk memasukkan cairan ke dalam tubuh melalui picagari dan jarum berongga yang mencucuk kulit.

Hukum Berobat dengan Alat Suntik Bagi yang berpuasa Di siang Bulan Ramadan

Ada lima lubang bagi laki-laki atau perempuan, Jika kemasukan sesuatu ke dalamnya, maka membatalkan puasa:

  1. Hidung
  2. Telinga
  3. Mulut
  4. Dubur
  5. Kemaluan

Lantas bagaimana berobat melalui alat suntik yang tidak melalui lubang terbuka bagi orang yang berpuasa?. Berobat melalui alat suntik di saat berpuasa, puasanya tidak batal. Dijelaskan sebagai berikut:

ولو أوصل الدواء لجراحة على الساق الى داخل اللحم أو غرز سكينا وصلت محه لم يفطر لأنه ليس بجوف

Artinya: “Andaikata seseorang menyampaikan obat bagi luka betis sehingga obatnya sampai ke dalam dagingnya, atau menancapkan pisau pada betis sehingga sampai ke sumsumnya, maka hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena tidak melewati rongga badan”. (Al-Mahali Hamisy dari kitab Al-Qalyubi juz 2 hl. 56).

Hukum Infus Bagi Yang Berpuasa Di siang Bulan Ramadan

Adapun hukum infus bagi yang menjalankan puasa di siang bulan Ramadan, maka boleh jika dalam keadaan darurat. Namun ulama berbeda pendapat dalam masalah infus, membatalkan puasa atau tidak?. Sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:

حكم الإبرة : تجوز للضرورة ولكن إختلفوا في إبطالها للصوم على ثلاث أقوال:ألأول ففي قول : أنها تبطل مطلقا لأنها وصلت الى الجوف. الثاني : ففي قول أنها لا تبطل مطلقا لأنها وصلت الى الجوف من غير منفذ مفتوح . الثالث وقول فيه تفصيل وهو الأصح: اذا كانت مغدية فتبطل الصوم, واذا كانت غير مغدية فننظر اذا كان فى العروق المجوفة وهي الأوردة فتبطل واذا كان فى العضل وهي العروق غير المجوفة فلا تبطل

Infus hukumnya boleh dalam keadaan darurat, tapi ada tiga pendapat ulama dalam masalah membatalkan puasa atau tidak:

  1. Pendapat pertama, batal secara mutlak, karena obat tersebut sampai ke dalam tubuh.
  2. Pendapat kedua, tidak batal secara mutlak, karena obat tersebut sampai ke dalam tubuh tanpa melewati lubang terbuka ( Hidung, telinga, mulut, dubur, dan kemaluan.
  3. Pendapat yang ketiga, diperinci dengan detail dan ini adalah pendapat Qoul paling shahih:

A. Jika infus tersebut berisi suplemen, sebagai pengganti makanan atau penambah vitamin, maka batal puasanya, karena ia membawa makanan yang dibutuhkan di dalam tubuh.

B. Jika tidak mengandung suplemen, (hanya berisi obat), maka diperinci sebagai berikut:

  • Apabila di infus melalui pembuluh darah, maka membatalkan puasa.
  • Apabila di infus melalui urat-urat yang tidak berongga, maka tidak membatalkan puasa. (Al-Taqrirat Al-Sadidah fii Al-Masail Al-Mufidah, hal. 452).

Hukum Oksigen Bagi Orang yang Menjalankan puasa Di Siang bulan Ramadan

Hukum memakai oksigen karena faktor pernapasan dalam keadaan berpuasa di siang bulan Ramadan yaitu diperinci:

1. Tidak batal puasanya, karena oksigen hanyalah berupa udara yang membantu pernapasan bagi orang yang terkena asma atau jantung. Sebagaimana diterangkan sebagai berikut:

قال بعض الفقهاء المعاصرين, يعفى عنه ولا يفسد الصوم

Artinya: “Berkata sebagian ulama Fuqaha Mu’ashirin, “Di toleransi dan tidak batal puasanya bagi yang menjalankan ibadah puasa di siang bulan Ramadan”.

2. Membatalkan puasa, jika oksigen tersebut dicampur dengan obat. Karena ada sebuah benda yang masuk dalam tubuh yang melewati lubang terbuka (hidung). Sebagaimana diterangkan sebagai berikut:

في مناهل العرفان من فتاوى وفوائد الشيخ فضل بن عبد الرحمن {ص 183}, {ت:1421}, ما نصه : {يسأل الناس عن استعمال البخاخة في رمضان نهارا, هل يبطل ذلك الصوم؟ ونحن نجيبهم بالأبطال, ويجوز استعماله للضرورة مع القضاء, لأن الدواء وسط البخاخة عين سائل تبخره الآلة عند الاستعمال اه

Dalam kitab Manahil Al-Urfan dari Fatawa dan Fawaid Syikh Fadl bin Abdurrahman hal. 183 wafat tahun 1421 H. Menyampaikan sebagai berikut:

Artinya: “Pada bertanya orang-orang tentang hukum memakai oksigen di siang bulan Ramadan, apa oksigen tersebut membatalkan puasa atau tidak?, dan kami menjawab pertanyaan mereka bahwa oksigen tersebut membatalkan puasa, dan boleh digunakan bagi orang yang berpuasa pada saat darurat, tetapi puasanya wajib di qodha, karena obat yang ada di dalam oksigen, berupa benda yang mengalir dan alat tersebut mengeluarkan uap ketika digunakan”.

3. Tidak batal secara mutlak, karena oksigen tersebut tidak seperti halnya makan dan minum, dan juga obat yang masuk melalui oksigen ke paru-paru secara langsung, tanpa melewati kerongkongan dan tenggorokan.

Seseorang yang terkena asma kadang diberi oksigen. Oksigen hanyalah berupa udara, sehingga hukumnya sama seperti bernapas, yaitu tidak membatalkan puasa, kecuali jika oksigen tersebut dicampur dengan obat. Sebagaimana terangkan sebagai berikut:

القول الثاني : استعمال بخاخ الربو استنشاقا لا يفطر, أخذت بهذا القول اللجنة الدائمة للبحوث العلمية بالسعودية , والشيخ أسامة الخلاوي على تفصيل عنده , وعللوا عدم الفطر : لأنه ليس في حكم الأكل والشرب بوجه من الوجوه وعلله الخلاوي بأن الدواء الذي يدخل من البخاخ الى الرئتين مباشرة دون المرور بالحنجرة والحلق فلم تكن الرئة موصلة للمعدة بأي حال

Artinya: “Memakai alat bantu pernapasan yang dihirup bagi orang yang menjalankan puasa di siang bulan Ramadan, tidak membatalkan puasanya, fatwa ini diambil dari komisi penetapan pembahasan ilmiyah di arab Saudi. Sedangkan menurut Syeikh usamah Al-Khollawi diperinci. Alasan komisi penetapan pembahasan ilmiyah arab saudi hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena tidak seperti halnya makan dan minum dengan beberapa tinjauan. Dan juga alasan usamah Al-Khollawi hal tersebut tidak membatalkan puasa, karena obat yang masuk dari alat pernapasan ke paru-paru secara langsung tidak melewati tenggorokan dan kerongkongan. Dan bagaimana pun paru tidak sampai ke perut”.

Dan menurut Syeikh Abdullah bin Mahfudz Al-Haddad, Sesungguhnya di alat pernapasan baik oksigen atau lainnya itu ada obat yang mengalir ketika mengeluarkan uap, maka dari itu bagi orang yang menjalankan puasa di siang bulan Ramadan bila sangat hajat boleh memakainya, tetapi wajib menjaga dan jangan sampai menelan sesuatu yang berupa benda (obat yang ada di dalam oksigen dan lainnya), tapi tampung di mulut dulu lalu ludahkan suatu yang menempel di tenggorokan karena ia termasuk dari bekas obat, bukan termasuk dari benda obat tersebut. Maka dengan demikian Insya Allah tidak akan membatalkan puasa, terutama bagi orang yang punya penyakit asma yang tidak bisa sembuh tanpa bantuan alat tersebut. Adapun orang yang punya riwayat penyakit asma dan jarang kambuh, lalu tiba-tiba kambuh di siangnya bulan Ramadan kemudian ia pakai alat itu. Alangkah baiknya puasa orang tersebut di qodha, karena kehati-hatian. Dan jika penyakit asma tersebut sering kambuh (tidak waktu), maka puasanya sah. dan tidak wajib di qodha.

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jika ada yang salah dan keliru, silahkan kami tunggu kritikan dan saranya.

Wallahu A’lamu Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here