Beranda Khutbah Jum'at Khutbah Jumat: Kewajiban Menjaga Diri Dan Jiwa

Khutbah Jumat: Kewajiban Menjaga Diri Dan Jiwa

91
0

Khutbah Jumat: Kewajiban menjaga diri dan Jiwa harus dilaksnakan oleh setiap manusia, karena manusia merupakan merupakan makhluk sosial. Artinya, manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan saling membutuhkan satu sama lain.

Oleh karena manusia saling membutuhkan, maka dalam hidup bermasyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga akhlak. Harapannya dengan akhlak yang baik manusia mampu menjalin keharmonisan antar sesama.

Manusia seharusnya menjaga jiwa diri sendiri dan juga orang lain. agar keberlangsungan hidup sesama tetap terjaga.

Menjaga Jiwa dalam Islam merupakan sesuatu yang sangat penting, karena termasuk dalam tujuan syariat (maqosid syariah), disamping tujuan lainya seperti, menjaga agama, menjaga harta benda, menjaga keturunan dan menjaga fikiran

Khutbah pertama


   اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ:

 فَيَايُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ   

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Salah satu pokok keutamaan hidup yaitu apabila kita bisa menjaga jiwa atau diri dengan segala anggotanya, sebab apabila salah satu anggotanya rusak akan menyebabkan tidak sempurnanya diri manusia. Bahkan sudah menjadi tabiat manusia, mereka menyukai kebaikan dirinya, sehingga untuk mencapai keinginan tersebut mereka akan berusaha sekuat tenaga agar kebaikan diri bisa tercapai.

Agama Islam tidak melarang umatnya mencintai dirinya sendiri bahkan menetapkan berbagai kewajiban yang harus diperbuat yang ada hubunganya dengan hak pribadinya. Manusia juga harus mengetahui hak dan kewajiban serta batas-batas dirinya sebagaimana mestinya. Tidak boleh berlebihan atau melewati batas, tetapi juga tidak boleh kurang.

Kewajiban Manusia Untuk Kesempurnaan Diri

Untuk mencapai kesempurnaan diri, ada tiga kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap manusia yaitu :

1. Kewajiban manusia menjaga harta benda

Setiap pribadi berhak mendapatkan harta benda untuk bekal hidupnya di dunia, seperti makanan, pakaian, perhiasan, tempat tinggal, alat-alat rumah tangga, sawah, ladang, emas, perak dan keperluan lainnya.

Agama tidak membenarkan apabila manusia mengusahakan harta benda atau kekayaan ini dengan cara meminta-minta atau memakai jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan agama, seperti dengan cara menipu dan memalsukan, atau cara lainnya yang tidak halal, sebab perbuatan itu akan menurunkan harkat derajatnya menurut pandangan manusia yang masih memiliki budi pekerti dan kesopanan serta kehormatan dan keutamaan.

Barangsiapa yang mengusahakan kekayaan atau harta benda dengan jalan halal, sebagaimana yang diatur Islam, maka akan mendapatkan pahala dari Allah SWT dan pandangan baik dari sesama manusia. Sebaliknya barangsiapa yang mengusahakannya dengan jalan haram, yang dilarang agama, maka akan mendapat siksa dari Allah SWT dan pandangan jelek dari sesama manusia.

Demikian juga Islam mencela dan menganggap hina terhadap orang yang mengusahakan kekayaannya dengan jalan meminta-minta kecuali ada sebab-sebab yang mendesak, umpamanya saja karena kelaparan dan sejenisnya.

Karena sangat pentingnya mengusahakan harta benda ini, Nabi Muhammad SAW bersabda:

لَيْسَ بِخَيْرِكُمْ مَنْ تَرَكَ دُنْيَاهُ لِأَخِرَتِهِ ، وَلاَ  آخِرَتُهُ لِدٌنْيَاهُ حَتَّىّ يُصِيْبَ مِنْهُمَا جَمِيْعًا ، فَإِنَّ  الدُّنْيَا بَلاَغٌ إِلَى الْآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُوْنُوْا كَلاًّ عَلَى النَّاسِ

Artinya : “Bukanlah  suatu kebaikan bagi yang meninggalkan dunia untuk akhirat, begitupun  sebaliknya bukanlah suatu kebaikan bagi yang meninggalkan akhirat untuk  dunia. Dan yang baik adalah adalah bagi yang mengumpulkan keduanya,  sebab sesungguhnya dunia itu jalan untuk menuju akhirat, dan janganlah  kalian menjadi beban untuk orang lain”. (Riwayat Ibnu Asakir)

2. Kewajiban manusia menjaga kesehatan

Ahli kesehatan mengatakan bahwa menjaga kesehatan lebih mudah dan lebih murah dari pada mengobati. Oleh karena itu, kita harus menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah terserang penyakit tubuh maupun penyakit hati., sebab biaya pengobatannya lebih mahal dari pada menjaga. Apalagi bila penyakitnya penyakit orang kaya, penyakit yang susah mencari obatnya. Begitupun menentukan macam-macam penyakit agar tahu obatnya tidak semua orang mengetahui, hal ini tentu saja memerlukan penelitian dokter. Sebab, apabila mengobati penyakit dengan kira-kira, menurut ilmu pengetahuan dan penelitian, bahayanya akan lebih besar dari pada manfaatnya.

Menjaga kesehatan mungkin semua manusia bisa melakukannya, asal menusia mengetahui aturannya. Bahkan menurut pandangan Islam, menjaga kesehatan merupakan hal yang harus terlebih duhulu dilakukan sebelum melaksanakan kewajiban, sebab seseorang yang tidak sehat tentu tidak akan bisa sempurna dalam melaksanakan kewajiban agamanya. Oleh karena itu, undang-undang tidak membenarkan seseorang melaksanakan kewajiban yang diluar kekuatan dan kemampuan fisiknya, sebab hal itu akan merusak kesehatan. Apabila tubuh sudah tidak sanggup atau kecapaian oleh suatu pekerjaan, maka ia berhak istirahat agar tubuh tetap sehat, tenaga bisa berkumpul kembali sebagaimana biasa.

Dengan  cara seperti itu, ia bisa melaksanakan kewajiban dan menerima haknya. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa setiap  orang memiliki kewajiban terhadap dirinya sendiri yaitu menjaga kesehatan tubuhnya, sebagaimana dia pun memiliki kewajiban terhadap yang lainnya. Bahkan kewajiban terhadap diri sendiri harus didahulukan dari yang lainnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

إنَّ لربِّكَ عليك حقًّا، وإنَّ لِنَفسكَ عليك حقًّا، ولأهلك عليك حقًّا، فأعْطِ كلَّ ذي حقٍّ حقَّهُ

Artinya: ”Sesungguhnya pada Rabb-mu ada hak yang harus anda tunaikan, dan pada dirimu ada hak yang harus anda tunaikan, dan pada diri keluargamu ada hak yang harus anda tunaikan, maka berilah setiap bagian”. (Riwayat Bukhari)

Hadirin sidang jumat rahimakumullah!

Apabila tubuh kita memiliki hak dari kita, berarti kita memiliki kewajiban  yang harus dikerjakan untuk kepentingan tubuh kita sendiri agar tubuh kita tetap sehat dan kuat, jauh dari macam-macam penyakit. Apabila sudah demikian, insya Allah, amal sholeh kita akan bertambah, bermanfaat bagi umat, dan Allah SWT akan mencintai kita.

3. Kewajiban manusia menjaga akhlak

Kewajiban manusia selanjutnya yaitu kewajiban untuk tetap menjaga kesopanan hidup, terutama adab dan akhlak yang mulia, dan mengisi akalnya dengan macam-macam ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Untuk memenuhi hal ini ada tiga hal yang perlu mendapat perhatian dari kita, yaitu:

1. Harus mengetahui batas-batas hak diri pribadi

Penting mengetahui hak-hak pribadi dan batas-batasnya, Gunannya mengetahui batas-batas ini agar kita selaku manusia tidak terjerumus ke jurang kehinaan dan kebinasaan. Manusia harus berusaha agar tidak melakukan hal-hal yang diluar kemampuan akalnya, ilmu dan harta bendanya. Tidak sedikit yang celaka karena manusia tidak mengetahui dan tidak menyadari batas kekuatan dirinya.

Orang yang mengetahui batas-batas dirinya, bisa terlihat dalam tutur kata, amal perbuatan, sopan santum atu budi pekertinya. Dia akan berbicara berdasarkan kemampuam pengetahuannya, tidak pernah berbicara sok atau sejenisnya. Dengan cara itu, dia tentu akan mendapat penghargaan dari orang lain. Dia sudah bisa memperlihatakn kelebihan dirinya berdasarkan batas-batas tertentu yang dimilikinya; tidak pernah sombong karena keturunannya. Demikian juga dalam bekerja berdasarkan kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya tidak pernah memaksakan diri melakukan hal-hal yang di luar kemampuannya.

Sebaliknya orang bodoh yang tidak mengetahui batas-batas kemampuan dirinya, bisa terlihat juga dari tutur kata dan tingkah lakunya. Apabila berbicara, yang diceritakannya hal-hal yang tidak diketahui dengan sebenarnya. Oleh karena itu, dia akan mendapat penghinaan dari sesamanya. Kadang-kadang merasa sombong dan bangga dengan milik orang lain, membanggakan keturunan, orang tua dan sebagainya, padahal kehebatan atau kelebihan tersebut bukan miliknya.

Dengan dua contoh ini kita bisa membedakan antara orang yang mengetahui batas-batas dirinya dengan orang yang tidak mengetahuinya. Yang mengetahui akan memperoleh keuntungan dan yang tidak mengetahui akan mendapat kerugian,  sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

رحِمَ الله مَن حفِظ لسانَهُ و عرَف زمانَهُ و استَقامَتْ طريقتُه.

Artinya: “Semoga Allah merahmati orang yang mampu memelihara lisannya, dan memahami era zamannya, serta istiqomah dalam perjalanan hidupnya.” (Abu Nuaim)

2. Mencintai dirinya

Mencintai diri sendiri berarti berusaha agar bisa memperoleh kebaikan dan menghindari kejelekan yang akan mencelakakan diri sendiri. Tidak aka ada yang disayangi, dikasihi, dicintai, dan dihormati kecuali diri sendiri. Apabila tidak ada rasa hormat, sayang, dan cinta terhadap diri sendiri, tentu tidak aka ada manusia yang memperoleh keuntungan dan tidak akan bertemu dengan kebahagiaan, sebab mungkin takkan ada yang mau bekerja dan berusaha mencari rezeki, kedudukan, dan keutamaan. Tetapi meskipun demikian mengetahui batas-batas kemampuan diri dalam rangka mencintai diri sendiri satun hal yang tidak boleh dilupakan, jangan sampai dalam rangka mencintai diri sendiri itu melanggar hak orang lain dengan jalan yang tidak halal. Yang begini bukan cinta dan sayang terhadap diri, tetapi akan menjerumuskan diri kepada kedzliman .

3. Menghormati diri sendiri

Menghormati diri sendiri yaitu melakukan pekerjaan yang menyebabkan orang lain menghormati kita, seperti sopan santun, tingkah laku yang sesuai dengan aturan pergaulan, adat kebiasaan, terutama yang sesuai dengan aturan agama. Hormat kepada orang tua, menyayangi sesama, terhadap sahabat dan kerabat, rela ditegur apabila berbuat salah, suka memberi nasihat, lisan tidak pernah mencela, tidak pernah menghina sesama manusia meski bagaimanapun keadaanya.

Orang yang seperti ini akan mendapat penghormatan dari orang lain, yang berarti dia sudah bisa menghormati dirinya sendiri, sebab penghormatan orang lain itu bergantung kepada penghormatan kita kepada orang lain. Sebaliknya apabila kita tidak bisa memperlihatkan akhlak yang mulia, tidak melakukan kebaikan, tidak menghargai orang lain, maka orang lain pun  takkan mau menghormati dengan menghargai kita


   جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ : أعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطانِ الرَّجِيمْ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمانِ الرَّحِيمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا    باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ     

Khutbah kedua


   اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا   أَمَّا بَعْدُ

 فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

  اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

 عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here