Beranda Khutbah Jum'at Khutbah Jumat : Penyakit Hati

Khutbah Jumat : Penyakit Hati

87
0
Khutbah jumat: Penyakit Hati

Khutbah Jumat : Penyakit Hati adalah khutbah tentang tentang bagaimana seseorang dapat menjaga hatinya karena selain hati adalah salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia, hati juga menjadi penentu amal baik dan buruk manusia.

Dalam agama Islam hati adalah penentu sifat seseorang. Baik buruknya seseorang berasal dari dalam hatinya. Dalam bahasa Arab, hati disebut dengan Qalbu.

Hati juga dapat dijadikan tempat bersemayamnya syaitan dan keburukan yang disebut juga dengan penyakit hati.

Lantas apakah sebenarnya penyakit hati dalam Islam dan apa bahayanya penyakit ini jika tidak segera diobati? Simak penjelasan berikut ini. penjelasan mengenai penyakit hati menurut Islam

Khutbah pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ 

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ، اٰخِذِيْنَ مَآ اٰتٰىهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَانُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَۗ (الذاريات: ١٦-١٧)

Hadirin sidang jumat yang berhagia

Tidak bisa dipungkiri bahwa segala ucapan dan tingkah laku manusia dikomandoi oleh hati. Apabila hati memiliki keinginan untuk melaksanakan kebaikan, maka tingkah laku manusia akan baik, demikian juga apabila hati memiliki keinginan untuk berbuat jelek maka tingkah laku manusia akan jelek. Hal itu disebabkan karena hati manusia memiliki penyakit, sebagaimana sabda Rasulullah SAW Kepada Ali R.A “ya Ali, semua perkara memiliki penyakit.” Tumbu-tumbuhan memiliki penyakit, hewan memiliki penyakit, manusia pun memiliki penyakit, bahkan penyakit manusia ada dua macam, yaitu penyakit lahir dan batin.

Dalam khutbah ini, khatib tidak akan membahas mengenai penyakit lahir, sebab penyakit lahir itu urusan dokter atau rumah sakit, tetapi khatib akan membahas macam-macam penyakit batin atau penyakit hati yang harus kita jauhi.

Beberapa Penyakit Hati

Menjaga diri sebelum terserang penyakit lebih baik daripada mengobati, demikian penyakit hati, kita lebih baik menjaga sebelum terserang.

Penyakit Bicara Yaitu Dusta

Salah satu penyakit hati adalah dusta. Berbicara mungkin merupakan pekerjaan manusia yang paling banyak dalam kegiatan sehari-hari, baik berbicara ditempat kerja, dalam diskusi, menerangkan pelajaran, memberi nasihat, saling bertukar pikiran, urusan bisnis, perjanjian atau obrolan biasa.

Pembicaraan itu tentu banyak manfaat, tetapi sayang, dalam membicaraan suka ada dusta, hal inilah yang harus kita jauhi selaku seorang muslim, sebab itu merupakan bibit unggul dari macam-macam keburukan, bahkan dustalah yang menyebabkan hilanngnya kepercayaan orang orang lain kepada kita.

Dusta terhadap orang tua, istri, teman, negara, atau terhadap diri sendiri merupakan penyakit yang berbahaya yang harus benar-benar diajuhi oleh umat Islam. Berdusta merupakan ciri orang munafik pembicaraannya tidak pernah sesuai dengan hatinya.

Para rasul dijauhkan oleh Allah SWT dari sifat dusta, bahkan mustahil berdusta dan wajib siddiq atau benar. Rasulullah SAW. Pernah menasihati orang yang baru masuk Islam dengan satu nasihat, yaitu jangan berdusta.

Dengan nasihat itu orang tersebut bisa menjadi orang taat kepada segala perintah agama, sebab dia tidak bisa mendustakan semua perbuatannya dihadapan Rasulullah SAW.

Tetapi, zaman sekarang berdusta itu sudah menjadi kebudayaan, bahkan dusta bisa menjadi uang. Cerita dongeng-dongeng banyak bohong, bahkan mungkin apabila tidak dusta tidak akan memperoleh “rezeki”. Setiap muslim harus meyakini bahwa bagi Allah SWT semua perkara sangat jelas meskipun manusia selalu berdusta. Semua perkara yang didustakan akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT yang tidak bisa dibohongi.

Penyakit Ilmu Yaitu Lupa

Berbagai macam ilmu pengetahuan dicari oleh manusia, baik mengenai ilmu agama maupun ilmu umum, bahkan mencarinya pun tidak pernah berhenti. Tetapi aneh, semakin banyak ilmu, semakin banyak pula lupa, apa penyebabnya sehingga menjadi demikian? Sebab mencari ilmunya hanya sekedar pengetahuan bukan untuk diamalkan atau dipraktekan untuk meraih kebaikan, baik bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat. Oleh karena itu, dalam mencari ilmu kita wajib lebih rajin mengamalkannya, sebab bila tidak diamalkan akan terserang oleh penyakit yaitu lupa. Pepatah Arab menyebutkan bahwa ilmu tanpa amal ibarat pohon tidak berbuah, tidak bermanfaat bagi pemiliknya atau orang lain. Memang memahami suatu ilmu itu susah, tetapi lebih susah mengamalkannya. Kita jangan lupa bahwa yang menyebabkan memahami atau mengerti itu adalah pengalamannya hanya memahami saja tidak berguna apabila tidak dilanjutkan dengan pengalaman.

Penyakit Ibadah Yaitu Riya’

Berbagai macam ibadah bisa kita laksanakan, apakah ibadah badaniah seperti shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, tasbih, takbir, tahmid atau tahlil. Apakah ibadah amaliyah seperti zakat, sedekah, infak, atau wakaf. Apakah ibadah salbiyah dengan cara menjauhi macam-macam larangan Allah SWT, atau ibadah ijtimaiyah seperti ibadah Haji. Tetapi ingat, semua ibadah yang dilakukan memiliki penyakit. Penyakit itu harus kita jauhi, yaitu riya’. Ibadah yang berdasarkan karena mengikuti orang lain, karena sedang musim, ingin dilihat orang, mencari kepentingan dunia, agar berpengaruh atau untuk mendapat pujian orang lain, merupakan ibadah bersifat riya’. Penyakit riya’ akan merusak amal kita, terutama merusak pahalanya karena tidak lillahi ta’aala.

Allah Swt. Berfirman :

   فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ  الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ

Artinya :

Celakalah orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, orang-orang yang buat riya’, dan enggan (memberikan) barang yang berguna (QS Al-Maun)

Dalam salah satu hadist Rasulullah SAW bersabda :

“Makhluk Allah yang paling dahulu masuk neraka ada 3 macam, yaitu:

  1. Seorang yang rajin membaca Al-Qur’an karena ingin disebut paling bagus bacaannya.
  2. Seseorang yang berjuang di jalan Allah karena ingin disebut pahlawan.
  3. Seseorang yang mengeluarkan sedekah agar disebut paling dermawan.”

Penyakit Kaya Yaitu Kikir

Kaya atau memiliki harta yang banyak dianjurkan oleh agama, sebab menjalankan aturan agama memerlukan modal, shalat harus memakai modal, zakat, harus kaya, ibadah haji harus memakai uang, demikian juga bangun masjid. Oleh karena itu, Islam menyuruh umatnya menjadi orang kaya, jangan meninggalkan keturunan yang lemah, jangan meninggalkan anak yang meminta-minta kepada tetangga. Islam mengajarkan bahwa yang memberi lebih baik daripada yang diberi.

Tetapi jangan lupa bahwa kaya pun punya penyakit, yaitu kikir, merasa sayang terhadap harta karena ingat ketika mengusahakannya sangat susah, meskipun ketika sengsara pernah berjanji bahwa apabila menjadi orang kaya akan menafkahkan hartanya dijalan Allah SWT, akan membangun masjid dan amal sosial lainnya. Tetapi ternyata setelah harta dimiliki, janji tinggal janji karena terserang oleh penyakit kaya, yaitu kikir atau pelit. Harta kekayaannya ditahan dan dipelihara baik-baki, bahkan mengeluarkan untuk diri sendirinya pun sangat sulit. Apabila sudah demikian maka hartanya tidak dapat bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Penyakit Dermawan Yaitu Menunjukan Kedermawanannya Kepada Orang Lain

Kikir atau pelit termasuk penyakit orang kaya, demikian juga dermawan, yaitu dengan menyebarkan atau memberitahu orang lain tentang kederwamanannya, mengumumkan bahwa dirinya orang dermawan meskipun dengan cara yang halus. Memiliki sifat dermawan dianjurkan oleh Islam, sebab dermawan atau pemurah merupakan salah satu sifat Allah SWT. Allah SWT menjanjikan bagi orang dermawan akan diberi berbagai macam kemurahan dari-Nya.

Allah SWT akan memberikan pertolongan terhadap orang yang suka menolong orang lain. Orang kikir tidak bisa taqarrub kepada Allah SWT. Oleh karena itu, setiap muslim yang mengharap rahmat dan kasih sayang Allah SWT terlebih dahulu harus menyayangi sesamanya. Tetapi sayang, orang yang dermawan pun suka suka berpenyakit, yaitu menyebut-nyebut amalnya. Orang lain diberi tahu bahwa dia sudah menyumbang untuk masjid sekian ribu, atau sumbangan lainnya.

Hadirin sidang jumat yang berbahagia,

Mengenai ruginya orang dermawan tetapi kedermawanannya disebarluaskan, tercantum dalm firman Allah SWT :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُه  كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

Artinya :

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah SWT dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah SWT tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir (Al-Baqarah 264).

بَارَكَ الله لِى وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ, وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذْكُرَ الْحَكِيْمَ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َاِنَّهُ هُوَالسَّمِيْعُ العَلِيْمُ , وَأَقُوْلُ قَوْلى هَذَا فَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

 
Khutbah kedua

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ،

إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here