Beranda Keutamaan Kemuliaan Seorang Ibu dalam Islam

Kemuliaan Seorang Ibu dalam Islam

127
0
Kemuliaan Seorang Ibu dalam Islam

Aminsaja.comKemuliaan Seorang Ibu dalam Islam sangat diistimewakan sehingga di abadikan dalam nama salah satu surat Al-Qur’an yaitu surat An-Nisaa.

Ibu atau perempuan sangat dimuliakan dan diagungkan kedudukannya dalam agama Islam, Sebagaimana Islam juga sangat memperhatikan hak-hak kaum perempuan dan mensyariatkan hukum-hukum yang agung untuk menjaga dan melindungi mereka.

Agungnya tugas dan peran perempuan terlihat jelas pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam. Terutama untuk kaum ibu, ia memberikan bimbingan yang baik bagi anak-anaknya. Tak salah jika kedudukan seorang ibu sangat mulia.

Bahkan hari ibu sendiri diperingati atas dasar rasa syukur dan terima kasih kita kepada ibu yang telah melahirkan, merawat dan membesarkan kita, sehingga anak diwajibkan hormat kepada ibu terlebih dahulu, sebelum kepada Ayah.

Makna kedudukan seorang ibu dalam Islam

Makna kedudukan seorang Ibu dalam Islam adalah sosok yang istimewa tiada duanya bagi setiap anak. Bahkan sebesar apa pun pengorbanan yang kita lakukan untuk beliau, tidak ada bandingannya dengan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya.

1. Kemuliaan ibu 3 tingkat dibanding ayah

Ibu adalah tempat bersandar di saat kita terpuruk menjalani kehidupan. Sehingga Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk lebih memuliakan seorang Ibu dibanding ayah, Sebagaimana yang diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’ahu, beliau bertanya kepada Nabi SAW:

يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ

Artinya: “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: “Ibumu“. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: “Ibumu”. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: “ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya.” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

2. Perjuangan Ibu tak tergantikan

Perjuangan seorang ibu terhadap anaknya tidak dapat ternilai dan diukur dengan harta atau materi lainya, setiap sentuhan kasih sayang, suapan dan sedotan dalam menyusui tidak bisa dibalas dengan balasan apa pun juga.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman:

وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ

Artinya: “Dan para ibu hendaknya menyusui anak-anak mereka selama dua tahun yang sempurna.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Ayat tersebut menjadi dalil bahwa masa kehamilan itu minimal enam bulan. Sebab, masa menyusui (sebagaimana dalam ayat di atas 2 tahun lamanya). Apabila diambil dua tahun dari masa 30 bulan, tersisa enam bulan sebagai masa kehamilan.” (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 781)

3. Ibu Rela mempertaruhkan nyawa demi buah hatinya

seorang ibu telah mengandung anaknya selama sembilan bulan lebih beberapa hari, dengan kepayahan, keberatan, dan kesulitan. Saat melahirkan, ia pun berjuang menghadapi maut. Sakit yang sangat pun dialaminya untuk mengeluarkan buah hatinya ke dunia. Tidak hanya itu, setelah si anak lahir, dengan penuh kasih sayang disusuinya kapan saja si anak membutuhkan. Tak peduli siang atau malam meski harus menyita waktu istirahatnya. Kelelahan demi kelelahan dilewatinya dengan penuh kesabaran dan lapang dada, demi sang permata hati. Maka kita sebagai seorang anak harus bersyukur dan berterima kasih kepada kedua orang tua yang telah membesarkan dan mendidik kita, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Surat Luqman ayat.14:

أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ

Artinya: “Bersyukurlah kepadaku dan kedua orang tuamu  kepadaku akan dikembalikan.”

Dalam ayat lain disebutkan:

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

Artinya: “Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS.Al-Ahqaaf:15)

Surga Di bawah Telapak Kaki Ibu

Begitu mulianya seorang ibu sehingga sosok ibu mendapatkan hak kemuliaan yang lebih besar daripada seorang ayah. Tidak heran dalam sebuah hadits dikatakan “surga di bawah telapak kaki ibu”. Bukan tanpa alasan, keberadaan ibu sangat diutamakan dalam sebuah keluarga.

Yang di maksud surga di bawah telapak kaki ibu secara maknawi adalah bahwa untuk meraih surga harus melalui ridho Allah SWT, sedangkan Ridho Allah SWT tergantung pada keridhoan orangtua, khususnya ibu. sebagaimana dinukil dari hadits yang berbunyi:

رِضَا اَللَّهِ فِي رِضَا اَلْوَالِدَيْنِ, وَسَخَطُ اَللَّهِ فِي سَخَطِ اَلْوَالِدَيْنِ

Artinya: “Ridho Allah SWT bergantung dari ridho kedua orang tua dan kemurkaan Allah SWT bergantung dari kemurkaan orang tua,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim)

Ibu adalah madrasah buat anaknya

Pada dasarnya, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ini sesuai dengan hadits Rasullullah SAW Al -Ummu madrasah Al-ula. Ibulah sosok pertama yang akan menanamkan norma-norma kebaikan dalam kehidupan manusia, sekaligus menjadi teladan dalam bersikap.

Tanggung jawab ibu begitu besarnya dalam mendidik seorang anak, sehingga sudah sewajarnya kita menghormati, dan menaati apa-apa saja yang diperintahkan. Agama Islam mengharuskan setiap anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya, terutama terhadap ibu. Perintah berbuat baik kepada ibu dan bapak ini banyak ditemukan dalam Al Quran.

Cara berbuat baik dengan Ibu

1. Dengan memuliakannya

Dalam hal ini Nabi Isa AS bisa jadi contoh bagaimana cara bersikap baik terhadap ibunya, Allah SWT berfirman, 

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا 

“Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.” (QS. Maryam: 32) 

Maka berbaktilah kepada sang ibu dengan cara memuliakan, menghormati, mematuhi perintah kebaikan, memohon ridhanya, dan melakukan berbagai hal yang terbaik demi kebahagiaan seorang ibu.

2. Tidak menyakiti hati Ibu

Banyaklah berbuat kebaikan kepada ibu. Jangan sampai terucap dari lisan sesuatu yang buruk. Karena setiap ridha ibu, ridha Allah juga. Allah SWT mendengarkan dan mengabulkan doa seorang ibu. Berbaktilah selagi masih ada waktu menjaga ibu kalian. jangan menyakiti hatinya karena yang demikian termasuk durhaka, dan durhaka adalah dosa besar yang disegerakan balasannya di dunia.

Rasulullah SAW telah menyebutkan dalam sebuah hadis bahwa, “Setiap dosa akan diakhirkan oleh Allah sekehendak-Nya sampai hari kiamat, kecuali dosa mendurhakai kedua orangtua. Sesungguhnya Allah akan menyegerakan (balasan) kepada pelakunya didalam hidupnya sebelum mati.”

3. Mendoakan Ibu

Agar mendapat ridha orang tua khususnya ibu maka doakanlah dan mintakan ampunan untuknya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua.

SELAMAT HARI IBU UNTUK SEMUA IBU TERUTAMA YANG BACA ARTIKEL INI.

semoga senantiasa sehat, diberikan kebahagiaan dunia dan akhirat

Wallohu A’lam bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here