Beranda Kajian Fiqih Islam Macam Dan Cara Meraih Berkah Menurut Islam

Macam Dan Cara Meraih Berkah Menurut Islam

330
0
Macam Dan Cara Meraih Berkah Menurut Islam

Aminsaja.comMacam Dan Cara Meraih Berkah Menurut Islam, Apa sebenarnya makna berkah atau Barokah dan kenapa banyak orang mencari keberkahan dari beberapa amal dan tindakan?

Dalam masyarakat kita sering mendengar kalimat tabarukkan, lalu apa hubunganya dengan keberkahan? Mendoakan seseorang agar mendapatkan keberkahan disebut Tabriik. Sedangkan tabarruk adalah “ngalap berkah” yaitu berusaha meraup berkah.

Pada Dasarnya setiap orang mengharapkan kebaikan yang abadi dan bahkan mengharap semakin bertambahnya kebaikan untuk diri dan keluarganya, sehingga seseorang selain berdoa secara langsung juga melakukan melakukan beberapa usaha untuk menambah keberkahan tersebut.

Manusia sering kali menganggap sesuatu hanya berdasarkan hitung-hitungan matematis. Sedangkan keberkahan tidak ada rumusnya dalam matematika, namun dampaknya sangat bisa dirasakan dan luar biasa..

Rezeki yang tidak barokah, akan cepat habis dengan berbagai sebab. Jabatan yang tidak barokah, justru akan menjadi masalah, ilmu yang tidak barokah juga dapat menjadi alat untuk memperdayai orang atau digunakan sebagai alat berbuat zalim kepada orang lain.

Pengertian Berkah

Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah atau barokah adalah kebaikan yang banyak dan abadi. Sedangkan menurut Al-Quran dan sunah makna berkah adalah bertambahnya kebaikan atau ziyadatul khoir. Berkah mencakup dalam arti material, spiritual, keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, dan sebagainya.

Menurut Imam Syamsuddin Al-Syahawi barokah adalah: berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemuliaan. Hal ini diterangkan dalam kitab Al-Qaul Al-Badi’ Fii Al-Shalati ‘ala Al-Habibi Al-Syafi’i:

المراد بالبركة النمو والزيادة من الخير والكرمة. {القول البديع في الصلاة على الحبيب الشفيع, ص 91}

“Yang dimaksud dengan barokah adalah berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemuliyaan”. ( Al-Qaul Al-Badi’ Fii Al-Shalati ‘ala Al-Habibi Al-Syafi’).

Hukum Tabarukkan atau “Ngalap berkah”

Dijelaskan oleh KH Sya’roni dikutip dari NU Online Meminta (doa) barokah juga merupakan tindakan (sunah) yang dilakukan Nabi Muhammad. Pada waktu  disowani sahabat Umar yang berpamitan hendak menunaikan umrah,  Nabi meminta supaya didoakan di tanah suci Makkah. “Padahal Nabi itu sosok yang paling mulia di dunia, kok masih minta didoakan sahabat Umar?. ini pelajaran yang luar biasa bagi kita umatnya. Makanya orang tua setiap ada yang menunaikan ibadah haji selalu datang mengikuti untuk didoakan di Makkah,” tutur Kyai Sya’roni.

Barokah itu ada yang diletakkan pada diri seseorang atau atsar (hal-hal yang membekas, memberikan kesan brupa jasa atau yang lain) dari seseorang. Adapun dalil yang menerangkan barokah yang terdapat pada atsar seseorang adalah hadist sebagai berikut:

حدثنا يحيى بن سعيد عن عبد الملك قال حدثنا عبد الله مولى أسماء عن أسماء قال أخرجت إلي جبة طيالسة عليها لبنة شبر من ديباج كسرواني وفرجاها مكفوفان به قالت هذه جبة رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يلبسها كانت عند عائشة فلما قبضت عائشة قبضتها إلي فنحن نغسلها للمريض منا يستشفي بها {مسند أحمد بن حنبل, باب حدثنا أسماء بنت أبي بكر الصديق, رقم 25705}

Telah bercerita kepadaku Yahya bin Sa’id dari Abdul Malik, beliau berkata: Abdullah budaknya Asma’ binti Abu Bakar RA, menceritakan dari Asma’, dia berkata: Asma’ memperlihatkan kepadaku pakaian yang berlubang yang berjahit sutra, lalu Asma’ berkata, ini adalah pakaian Rasulullah SAW. Yang pernah beliau pakai. Pakaian itu dulu disimpan oleh Aisyah RA. Ketika Aisyah RA, wafat, saya yang menyimpannya. Kami selalu mencelupnya ke air untuk mengobati orang sakit dari kalangan kami. (Musnad Ahmad bin Hanbal bab Hadatsana  Asma’ binti Abu Bakar As-Shiddiq, [25705].

Macam-Macam Sumber Keberkahan

Dalam Al-Qur’ an banyak disebutkan sumber keberkahan di antaranya berupa tempat (negeri, kota, kampung), manusia (keluarga, perorangan), waktu, benda (pohon), rizki, air, dan lain-lainya.

1. Alloh SWT

Dijelaskan dalam surat Al-Mulk bahwa Allah SWT merupakan sumber barokah:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Maha Suci (Maha Barokah) Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”

2. Al-Quran

Al-Qur’an merupakan sumber Barokah sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am:

وَهَـذَا كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُواْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: “Dan Al-Qur’an ini adalah kitab barokah (yang diberkati) yang Kami turunkan, maka ikutilah (ajaran)nya, dan bertaqwalah agar kamu disayangi (oleh Allah)”. (QS. Al-An’ am:155)

3. Orang saleh

Orang Soleh akan memperoleh keberkahan di dunia berupa tidak akan sesat dan keberkahan di akhirat berupa tidak akan sengsara. Sebagaimana firman Allah SWT:

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

Artinya: “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thoha:123).

Keberkahan orang saleh disebabkan karena mereka begitu giat berdakwah menyebarkan agama di tengah-tengah masyarakat sehingga banyak orang mendapatkan manfaat dari semangatnya.

Nabi SAW menyebut orang saleh yang berilmu sebagai pewaris para nabi.

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi”. (HR. Abu Daud no. 3641, At Tirmidzi no. 2682 dan Ibnu Majah no. 223).

4. Air zam-zam

Dalam hadits Nabi SAW bersabda:

إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ

Artinya: “Sesungguhnya air zam-zam adalah air yang diberkahi, air tersebut adalah makanan yang mengenyangkan.” (HR. Muslim no. 4520)

Dari Ibnu ‘Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda:

مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ

Air zam-zam sesuai keinginan ketika meminumnya.” (HR. Ibnu Majah no. 3062 dan Ahmad 3: 357).

5. Air Hujan

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً مُّبَارَكاً فَأَنبَتْنَا بِهِ جَنَّاتٍ وَحَبَّ الْحَصِيدِ

Dan Kami turunkan dari langit, air yang telah dianugerahi barokah. Lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon dan biji­bijian. (QS. Qof:9)

6. Masjidil Haram dan Masjid Aqsha

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami anugerahkan barokah pada negeri/tempat sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari landa-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Isro’:1)

7. Tempat: Negeri Mekkah

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang dianugerahi barokah, dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”. (QS. Ali-Imron:96).

8. Barokah Waktu

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang dianugerahi barokah dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan”. (QS. Ad-Dukhon:3).

9. Barokah Rizki

Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa, memohon kepada Allah SWT agar diberi rizki yang barokah.

اَللّهُمَّ بَارِكْ لَناَ فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, anugerahkanlah barokah kepada rizki kami, dan jagalah diri kami dari api neraka”.

10. Manusia

Barokah kepada Manusia dicontohkan barokah yang diterima Nabi Isa as, menyebabkan beliau mendapat keistimewaan berupa, ke mana pun ia pergi, maka tempat disinggahi dan siapa pun yang bertemu dengannya mendapatkan manfaat barokah darinya, seperti orang yang sakit jadi sembuh, yang susah jadi mudah urusannya dan seterusnya.Disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكاً أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيّاً

Artinya: “Dan Dia menjadikan aku (Nabi Isa as) seorang yang dianugerahi barokah di mana saja aku berada: dan dia memerintahkan kepadaku untuk (mendirikan) Shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup”. (QS. Maryam:31)

Cara meraih keberkahan

1. Dengan Iman dan Taqwa

Yang terpenting dalam meraih keberkahan adalah dengan iman dan takwa. Tidak dibenarkan mencari berkah dengan cara maksiat, dan ritual yang jelas dilarang syariat agama contohnya seperti zina dengan ala alam ghaib. Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’rof:96).

2. Dengan Berdoa

Al Qur’an mengajarkan doa, bagaimana memohon agar barokah dianugerahkan kepada keluarga / rumah tangga:

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُّبَارَكاً وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

Artinya: “Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada rumah yang dianugerahi barokah, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat” (QS. Al-Mu’minun:29).

3. Beraktivitas dan Mencari rezeki sejak Pagi

Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi SAW bersabda:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.

Dalam hadits lain diriwayatkan sebagai berikut:

Artinya: “Apabila Nabi SAW mengirim pasukan, beliau SAW mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta”. (HR. Abu Daud no. 2606, At Tirmidzi no. 1212, Ibnu Majah no. 2236)

4. Jangan tamak pada harta

Ketika seseorang mencari harta dengan ambisi dan diliputi rasa tamak, maka tidak ada keberkahan. Nabi SAW pernah mengatakan pada Hakim bin Hizam:

يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ، الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى

Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Barang siapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya (tidak tamak dan tidak mengemis), maka harta itu akan memberkahinya. Namun barang siapa yang mencarinya untuk keserakahan, maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah” (HR. Bukhari no. 1472).

Yang dimaksud dengan kedermawanan dirinya dalam hadits diatas adalah jika dilihat dari sisi orang yang mengambil harta berarti ia tidak mengambilnya dengan tamak dan tidak meminta-minta. Sedangkan jika dilihat dari orang yang memberikan harta, maksudnya adalah ia mengeluarkan harta tersebut dengan hati yang lapang. (Lihat Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani, 3: 336.)

Diperlukan sikap Qona’ah, Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Qona’ah dan selalu merasa cukup dengan harta yang dicari akan senantiasa mendatangkan keberkahan. Sedangkan mencari harta dengan ketamakan, maka seperti itu tidak mendatangkan keberkahan dan keberkahan pun akan sirna.” (Syarh Ibni Batthol, Asy Syamilah, 6: 48)

5. Jujur dalam jual beli

Dari Hakim bin Hizam, Nabi SAW bersabda:

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

Artinya: “Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang”. (HR. Bukhari no.2079 dan Muslim no.1532)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here