Beranda Doa-Doa Praktis Mengubah Penderitaan Menjadi Kebahagiaan

Mengubah Penderitaan Menjadi Kebahagiaan

76
0
Mengubah Penderitaan Menjadi Kebahagiaan

Aminsaja.com Mengubah Penderitaan Menjadi Kebahagiaan. Sering kali kita dengar kalimat “Nikmatilah penderitaan”. Kalimat seperti kedengarannya sangat tidak masuk akal. Sebab pada umumnya manusia memandang penderitaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Apakah mungkin sesuatu yang buruk dan tidak menyenangkan itu bisa dinikmati?

Bagi orang yang berjiwa kerdil memang demikian keadaannya. Karena mereka terbiasa memandang sesuatu dari kulit luarnya, bukan hakikatnya. Namun bagi orang ma’rifat dan berjiwa besar, cerdas dan bersahaja, kalimat tersebut bukanlah sesuatu yang aneh.

Oleh sebab itu, kita harus belajar menjadi orang ma’rifat (orang arif) dan bijaksana. Jangan memandang sesuatu itu hanya tampak lahirnya saja, namun carilah dibalik yang tersembunyi.

Belajarlah untuk menikmati penderitaan, niscaya kita akan bahagia dalam menjalani hidup. Berpikirlah mulai sekarang, bahwa tidak selamanya penderitaan itu buruk dan dicela. Kadang-kadang penderitaan itu bisa memberikan yang terbaik buat kita.

Doa yang tulus dan ikhlas biasanya terucap bersama penderitaan. Penyucian jiwa yang sungguh-sungguh senantiasa bersama penderitaan. Penderitaan yang dirasakan oleh pencari ilmu, disebabkan beban berat yang dipikulnya. Meski pun demikian, beban berat itu justru mengantarkan ia menjadi seorang ulama dan ahli di bidangnya. Pada awalnya, ia memang bersusah payah, namun akhirnya dapat tersenyum dengan wajah ceria.

Penderitaan seorang penyair terhadap kalimat yang diucapkan, justru melahirkan seni yang mengagumkan. Hal itu disebabkan karena kita dipengaruhi oleh suasana perasaan sedih yang muncul dari relung hati yang paling dalam. Sehingga kesedihan dalam jiwa kita terobati. Kesulitan yang di alami oleh seorang penulis justru akan menghasilkan sesuatu yang “hidup” penuh pelajaran, nasihat dan peringatan yang berharga.

Seorang pencari ilmu yang hidupnya penuh dengan kemewahan, rasa aman, dan tidak pernah merasakan kepedihan hidup, akhirnya ia menjadi pemalas, lamban dan tidak pandai. Ujung-ujungnya ia menjadi sarjana dungu dan takut menghadapi kehidupan.

Orang mukmin di era awal Islam adalah mereka yang memiliki tingkat keimanan tinggi, hatinya bersih dan dapat dipercaya. Kehidupan mereka penuh dengan penderitaan, rasa lapar yang melilit, kemiskinan hidup, menjadi gelandangan dikucilkan dari kelompoknya, jauh dari kekasih dan keluarga, serta mengalami penyiksaan yang sangat pedih karena mereka memeluk Islam. Generasi awal pemeluk Islam ini adalah orang-orang yang bersemangat, mereka mampu menyikapi penderitaan menjadi kenikmatan, rela berkorban dengan ikhlas. Disebabkan keikhlasannya, mereka menduduki kemuliaan di sisi Allah SWT. Sebagai mana firman Allah SWT:

ا كَانَ لِاَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِّنَ الْاَعْرَابِ اَنْ يَّتَخَلَّفُوْا عَنْ رَّسُوْلِ اللّٰهِ وَلَا يَرْغَبُوْا بِاَنْفُسِهِمْ عَنْ نَّفْسِهٖۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ لَا يُصِيْبُهُمْ ظَمَاٌ وَّلَا نَصَبٌ وَّلَا مَخْمَصَةٌ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَطَـُٔوْنَ مَوْطِئًا يَّغِيْظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُوْنَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا اِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهٖ عَمَلٌ صَالِحٌۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُضِيْعُ اَجْرَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Tidak pantas bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badui yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) diri Rasul. Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”, (QS. Al-Taubah ayat:120).

Dalam kehidupan ini, sebagian orang telah memberikan sumbangsihnya untuk kepentingan manusia. Sumbangsih itu luar biasa menakjubkan. Semua itu karena penderitaan yang sebelumnya di alami. Dari penderitaan itu, ia mampu menjadi manusia sempurna, kuat jiwa dan kuat raga.

Oleh karena itu, jika kita ingin berjiwa besar maka belajarlah untuk selalu berprasangka baik kepada siapa pun, terutama kepada Allah SWT. Penderitaan kita, nikmatilah. Penderitaan itu ibarat pil pahit yang dapat menyembuhkan. Jika kita melihat keadaan zatnya, obat/pil memang pahit dan tidak enak di lidah kita. Namun jika lihat dari sisi hakikatnya yang tersembunyi, maka betapa kita dapat merasakan manfaat dari kepahitan itu.

Pohon besar yang berdahan kokoh dan akarnya mencengkeram kuat ke tanah bukan berarti ia tidak mengalami gangguan alam. Kekokohannya karena semenjak ia tumbuh selalu diterpa angin dan teriknya matahari. Jika ketika masih sedang tumbuh, kemudian ia tak kuat menghadapi angin dan badai, maka tak akan mungkin bisa se kokoh sekarang.

Jangan kira orang yang sekarang sukses itu tanpa melalui penderitaan. Kebahagiaan dan keberhasilan hidupnya saat ini karena dibesarkan oleh penderitaan dan cobaan-cobaan. Karena ia mampu menyiasati dan memanfaatkan penderitaan, ia pun menjadi besar. Ingatlah, tiada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Tiada keberhasilan tanpa perjuangan.

Oleh karena itu, jika kita mengaku beriman hendaknya ikhlas dan sabar ketika mendapat musibah. Jika mendapatkan kenikmatan hendaknya jangan lupa diri, tetapi bersyukur kepada yang memberi.

Sesungguhnya gejolak perasaan yang menggelora ketika berhadapan dengan sesuatu menyebabkan seseorang tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Perasaan seperti ini mendorong tubuh menjadi gemetar, jantung berdegup, perasaannya diliputi oleh amarah yang tidak terkendalikan sehingga terlena melampaui batas. Akhirnya cenderung untuk berbuat di luar batas kewajaran dan zalim.

Pada saat kondisi seperti itu, jika kita mendapatkan kenikmatan dan kesenangan, tentu menjadi sangat gembira dan lupa diri. Di dalam kebahagiaan, kita merasa tidak sadar berbuat aniaya terhadap diri sendiri. Atau, dengan mudahnya mengusir orang lain, mencela, melupakan kebaikannya dan menghapus kemuliaannya. Jika kita cinta kepada seseorang, kita akan berlebihan dalam memberikan penghormatan dan pujian. Diungkapkan dalam sebuah hadits, “Cintailah ke kasihmu sewajarnya saja dan jangan berlebihan. Mungkin bisa jadi satu hari dia akan menjadi orang yang paling kamu benci. Dan bencilah kepada seseorang secara wajar dan jangan berlebihan, karena bisa jadi suatu hari dia akan menjadi ke kasihmu yang setia”.

Disebutkan pula dalam sebuah hadist, bahwa Rasulullah SAW. berdoa , “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sikap yang lurus dan seimbang ketika dalam keadaan marah dan reda”.

Barangsiapa yang mampu mengendalikan perasaan dan membimbing amarahnya, dapat menimbang sesuatu dan menjadikannya sesuai kemampuannya, maka dirinya telah mendapat kebenaran dan petunjuk. Allah SWT berfirman:

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

Artinya: “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri”. (QS. Al-Hadid ayat: 23).

Sesungguhnya pokok ajaran Islam ialah menyempurnakan tingkah laku dan moral yang mulia. Membangun keagungan akhlak bagi pengikutnya. Ajaran ini dapat dilihat dalam risalah Islam itu sendiri yang tegak dengan sistem kerjasama, saling ikhlas, saling menghargai terhadap sesama serta bertindak adil. Dalam Al-Qur’an, diterangkan:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا

Artinya: “Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan”. (QS. Al-Baqarah ayat:143).

Adil merupakan masalah yang mendasar, yang perlu diperhatikan oleh semua orang, terutama penegak hukum dalam menengahi atau mengadili sesuatu. Islam sendiri ditegakkan demi keadilan dan kebenaran. Kebenaran dalam kabar perlu disampaikan dan keadilan dalam hukum perlu diterapkan semua itu bisa dilakukan apabila kita telah terlatih dalam mengendalikan perasaan.

Wallahu A’lam Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here