Beranda Keutamaan Sedekah Jariyah Pahala Terus Mengalir

Sedekah Jariyah Pahala Terus Mengalir

376
1
Sedekah Jariyah Pahala Terus Mengalir

Aminsaja.comSedekah Jariyah Pahala Terus Mengalir, Hidup didunia hanyalah sementara. Maka harus digunakan untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadapi akhirat yang kekal. Bekal tersebut berupa amal Saleh dan kebaikan. Ketika Hidup didunia manusia bisa saling tolong menolong, dan meminta bantuan yang lainya. Tetapi ketika sudah mati, tidak ada satu pun yang dapat menemani kecuali amal sendiri.

Ibarat orang yang sudah meninggal tanpa membawa amal adalah seperti orang hendak menyeberang lautan, tanpa perahu, sebagaimana disebut dalam kitab (Syarah Nasho ihul Ibad hal. 5)  

والمقالة الثالثة (عن أبى بكر الصديق رضى الله عنه : من دخل القبر بلا زادٍ) أى من العمل الصالح (فكانما ركِب البحر بلا سفينة) أى فيغْرَق غرَقًا لا خلاصَ له إلا بمن ينقَذه كما قال صلى الله عليه وسلم (ما الميت فى قبره إلا كالغريق المُغَوِّث) أى الطلاب لأن يُغاث.

Artinya: “Nasihat yang ketiga (dari Abu Bakar As-Shiddiq Ra berkata: Barang siapa yang masuk ke dalam kubur tanpa adanya bekal), yaitu amal saleh (Maka seakan-akan mengarungi lautan tanpa perahu). Dia akan tenggelam tanpa bisa terselamatkan kecuali Dzat, Allah yang dapat menyelamatkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW (Tidak ada mayit di dalam kubur terkecuali seperti seseorang yang tenggelam yang meminta pertolongan), meminta agar dirinya diselamatkan”.

Untuk itu selagi masih diberi kesempatan hidup, sebaiknya manusia memperbanyak amal dan senantiasa memperbaiki kualitasnya. di antaranya adalah sedekah jariyah sebagai amal tabungan yang pahalanya akan terus mengalir meskipun orang yang melakukannya sudah meninggal dunia.

Keadaan Manusia Setelah Mati

Nabi Muhammad SAW bersabda:

 يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.

Artinya: “Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, dua golongan akan kembali dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya.

Beliau berkata, “Tafsir hadits ini adalah bahwa anak Adam mesti memiliki keluarga yang selalu bergaul dengan dirinya, harta sebagai bekal hidupnya, dua sahabat ini selalu menyertainya dan suatu saat akan berpisah dengannya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang menjadikan harta sebagai sarana untuk berdzikir kepada Allah subhanahu SWT dan menafkahkannya untuk kepentingan akhirat, dan dia mengambil harta itu sebatas kebutuhan yang bisa menyampaikannya untuk kehidupan akhirat, dia mencari istri yang salehah yang bisa menjaga keimanannya. Adapun orang yang menjadikan harta dan keluarga yang menyibukkannya sehingga melalaikan Allah SWT, maka dia termasuk orang yang merugi, sebagaimana firman Allah SWT:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi”. (QS. Al-Munafiqun: 9).

Adapun teman pertama adalah keluarga, maka keluarga tidak akan memberikan manfaat apapun baginya setelah kematiannya kecuali orang yang memintakan ampun baginya dan berdoa baginya seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya. Bisa jadi keluarganya tidak berdoa baginya, sebab bisa jadi orang lain yang lebih jauh, lebih memberikan manfaat bagi keluarganya, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh orang-orang shaleh: “Keluargamu sibuk membagi warisan yang telah engkau tinggalkan, sementara ada orang lain yang bersedih dengan kematianmu dan berdoa untukmu pada saat dirimu berada di antara himpitan lubang-lubang dalam tanah”, dan di antara keluarga itu ada yang menjadi musuh bagimu, sebagaimana firman Allah SWT:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu (QS. Al-Taghabun: 14).


Adapun teman yang kedua adalah harta, maka dia tidak mengikuti pemiliknya dan tidak pula masuk ke dalam kuburnya, dan kembalinya harta tersebut sebagai kalimat kiasan bahwa harta itu tidak menemani pemiliknya di dalam kuburnya dan tidak masuk ke dalam liang kubur pemiliknya.

Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

 يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ

Artinya: “Anak Adam berkata: Hartaku, hartaku, Allah berfirman: Apakah engkau memiliki harta wahai anak Adam kecuali apa yang engkau telah makan dan habis, atau engkau pakai lalu rusak, atau engkau sedekahkan lalu engkau berlalu membawanya dan apa-apa selain itu maka dia pergi dan ditinggalkan untuk orang lain”.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abdullah bin Mas’ud RA bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

أَيُّكُمْ مَالُ وَارِثِهِ أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ مَالِهِ  . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ مَالُهُ أَحَبُّ إِلَيْهِ . قَالَ  فَإِنَّ مَالَهُ مَا قَدَّمَ ، وَمَالُ وَارِثِهِ مَا أَخَّرَ

Artinya: “Siapakah di antara kalian yang harta pewarisnya lebih dicintainya daripada harta dirinya sendiri?. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah, tidak ada seorang pun di antara kita kecuali hartanya lebih dicintainya. Beliau bersabda: Sesungguhnya harta miliknya yang sebenarnya adalah apa yang telah dipersembahkan (sebagai amal saleh) sementara harta pewarisnya adalah apa yang ditinggalkan”.

Maka seorang hamba tidak akan mengambil manfaat apa pun dari hartanya kecuali apa yang dipersembahkannya untuk masa depan dirinya di (akhirat kelak) dan menafkahkan harta itu di jalan Allah SWT, dan apa yang telah dimakan dan dipakainya, maka dia bukan bagian yang menjadi miliknya (secara hakiki) dan bukan pula dosa baginya dalam pemanfaatannya. Kecuali jika dia berniat dengan niat amal saleh, maka dia akan diberikan kepadanya pahala secara mutlak. Sebagian pembesar dan penguasa berkata kepada Abu Hazim yang hidup zuhud: Kenapa kita membenci kematian?. Beliau menjawab: Karena engkau mengagungkan dunia, engkau telah menjadikan hartamu di hadapan kedua matamu maka engkau pasti benci meninggalkannya dan seandainya engkau mempersiapkannya untuk akhiratmu niscaya engkau akan senang menggunakannya untuk mengejarnya.

Yang Termasuk Amal Jariyah

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

(إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. (رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Artinya: “Apabila anak Adam mati maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya”. (HR. Muslim).

1. Sedekah Jariyah

Dikutip dari Situs resmi BAZNAS, Sedekah diambil dari kata bahasa Arab yaitu “shadaqah”, berasal dari kata sidq (sidiq) yang berarti “kebenaran”. Menurut peraturan BAZNAS No.2 tahun 2016, sedekah adalah harta atau non harta yang dikeluarkan oleh seseorang atau badan usaha di luar zakat untuk kemaslahatan umum.

Sedekah non materi di antaranya adalah, senyuman, menyingkirkan batu dari jalan, dan berkata baik, sebagaimana hadits di bawah ini:

Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah“. (HR. At-Tirmidzi).

Kamu menyingkirkan batu, duri dan tulang dari tengah jalan itu adalah sedekah bagimu.”(HR. Bukhari).

“Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah neraka walaupun hanya dengan (sedekah) satu biji kurma, kalau kamu tidak menemukan sesuatu, maka dengan omongan yang baik.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Di antara Sedekah Jariyah adalah: Menyumbang pembangunan masjid, pembangunan TPQ, pondok pesantren dan lain sebagainya, di mana harta yang sudah disedekahkan dipakai untuk kemaslahatan umat, dan sepanjang bangunan tersebut digunakan dan diambil manfaatnya, maka pahalanya akan terus mengalir.

Disebutkan dalam riwayat Imam al-Tirmidzi:

مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا صَغِيرًا كَانَ أَوْ كَبِيرًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الجَنَّةِ  

Artinya: “Barang siapa membangun masjid karena Allah, kecil atau besar, maka Allah membangun baginya rumah di surga”. (HR al-Tirmidzi).

2. Ilmu Yang Bermanfaat

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang sumbernya dari Rasulullah SWT yang isinya mengenai bagaimana mengenal Allah SWT dengan segala perintah dan larangannya, ketika ilmu diajarkan kepada orang lain dan berdampak positif bagi yang menerima dan menjalankannya maka ilmu terebut bermanfaat dan pahalanya akan mengalir. Contoh mengajarkan tentang ilmu tauhid dan baca tulis Al-Qur’an, ketika orang yang diajari Al-Qur’an mengamalkan ilmunya dengan membaca Al-Qur’an, maka pahalanya akan mengalir terus kepadanya.

Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ مِنَ الْـهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيْرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْـمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْـمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوْا وَسَقَوْا وَزَرَعُوْا وَأَصَابَ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيْعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَـمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَـمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ.

Artinya: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya laksana hujan deras yang menimpa tanah. Di antara tanah itu ada yang subur. Ia menerima air lalu menumbuhkan tanaman dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah kering yang menyimpan air. Lalu Allah memberi manusia manfaat darinya sehingga mereka meminumnya, mengairi tanaman, dan berladang dengannya. Hujan itu juga mengenai jenis (tanah yang) lain yaitu yang tandus, yang tidak menyimpan air, tidak pula menumbuhkan tanaman. Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah, lalu ia mendapat manfaat dari apa yang Allah mengutus aku dengannya. Juga perumpamaan atas orang yang tidak menaruh perhatian terhadapnya. Ia tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.”

3. Doa Anak Saleh Yang Mendoakan Orang tua

Anak merupakan anugerah yang dititipkan kepada orang tua untuk dirawat dan dididik, nilai-nilai baik dan ilmu agama yang diajarkan kepada anak akan kembali kepada orang tua, sebagaimana Firman Allah SWT:

‏أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمۡ نَصِيبٞ مِّمَّا كَسَبُواْۚ وَٱللَّهُ سَرِيعُ ٱلۡحِسَابِ

Artinya: “Mereka itulah yang memperoleh ganjaran dari apa yang telah mereka usahakan, dan Allah Maha cepat perhitungan-Nya”. (QS. Al-Baqarah : 202)

Sementara anak adalah bagian dari usaha orang tua. Nabi SAW bersabda:

‏إن أطيب ما أكلتم من كسبكم وإن أولادكم من كسبكم

Artinya: “Sebaik-baik rejeki adalah yang kalian makan dari usaha (jerih payah) kalian sendiri. Dan sungguh anak-anak kalian itu termasuk dari usaha kalian.” (HR. Tirmidzi, hadis Aisyah radhiyallahu’anha)

Di dalam Keterangan yang termaktub dalam kitab Syarah Ibnu Majah, karya Imam Suyuti dan Ad-Dahlawi menjelaskan bahwa:

‏وقيل إن كل عمل صالح يعمله الولد يلحق ثوابه لأبويه ولو لم يدع لهما.. كما أنه إذا ترك صدقة جارية يلحقه ثوابها ولو لم يدع له من انتفع بها أو استفاد منها، جاء ذلك في شرح ابن ماجه للسيوطي والدهلوي

Artinya: “Ada pendapat ulama menyatakan bahwa setiap amal ibadah yang dilakukan anak, maka orang tua juga akan mendapatkan pahalanya. Meski si anak tidak mendoakan mereka (secara lisan). Sebagaimana jika seseorang meninggalkan sedekah jariyah, maka ia akan mendapatkan pahalanya meski orang yang mendapatkan manfaat atau memanfaatkan sedekah itu, tidak mendoakan si pemberi”.

Demikian sekelumit tentang Sedekah jariyah, adapun tentang sedekah secara umum manfaatnya sudah kami jelaskan di artikel sebelumnya tentang seputar Sedekah.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here