Beranda Umroh & Haji Sejarah Hajar Aswad

Sejarah Hajar Aswad

72
0
Sejarah Hajar Aswad

Sejarah Hajar Aswad sudah ada sejak adanya Baitullah, Hajar Aswad sendiri merupakan sebuah batu yang diturunkan dari surga oleh Allah SWT yang warnanya lebih putih dari pada susu.

Makna Hajar Aswad, adalah batu hitam disebabkan dosa-dosa manusia yang memegang batu tersebut, sehingga yang asalnya putih menjadi hitam.

Hajar Aswad diletakkan disudut Ka’bah dan setiap manusia yang Thawaf disunahkan untuk beristilam (mengecupnya).

Hajar Aswad menjadi kebanggan umat muslim dan juga menjadi saksi bagi orang yang memegang batu tersebut.

Batu Ruby dari Surga

Dalam sejarah Hajar aswad merupakan jenis batu ruby yang diturunkan Allah SWT dari surga melalui malaikat Jibril. Hajar aswad yang diyakini aslinya berupa sebongkah batu, yang sekarang karena satu dan lain hal telah pecah menjadi delapan keping yang terpaksa digabung kembali dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus dikecup, dicium dan diusap-usap oleh jutaan bahkan milyaran manusia sejak Nabi Adam, yang datang ke baitullah baik untuk Haji maupun untuk tujuan Umrah. Harap dicatat bahwa panggilan Haji telah berlangsung sejak lama yaitu sejak Nabi Adam AS. Bahkan masyarakat jahiliyah yang musyrik dan menyembah berhala pun masih secara setia melayani jamaah haji yang datang tiap tahun dari berbagai belahan dunia.

Keistimewaan Hajar Aswad

Nenek moyang Rasulullah, termasuk kakeknya Abdul Muthalib adalah para ahli waris dan pengurus Ka’bah atau secara spesifik adalah penangung jawab air Zam-zam yang selalu menjadi primadona dan incaran para jamaah haji dan para penziarah.

1. Mempunyai Cahaya Surga

Dalam Sejarah Hajar Aswad disebutkan dalam hadits tentang keutamaanya yaitu : Hadits sahih riwayat Tarmidzi dan Abdullah bin Amir bin Ash mengatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Batu/Maqam Ibrahim) dua batu ruby dari surga yang dihilangkan cahayanya oleh Allah SWT. Kalua cahayanya tidak dihilangkan, maka dua batu ruby tersebut mampu menyinari dunia dari barat sampai timur”,

2. Dapat Menyembuhkan Penyakit

Satu riwayat sahih mengatakan :

“Rukun (Hajar Aswad) dan Maqam (Batu/Maqam Ibrahim) berasal dari batu-batu Ruby Surga yang kalau tidak karena sentuhan dosa-dosa manusia akan dapat menyinari antara Timur dan Barat. Setiap orang sakit yang memegangnya akan sembuh dari sakitnya”.

3. Sebagai Saksi bagi Pemegangnya

Hadist Sahih riwayat Imam Baihaqi dan Ibnu ‘Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Allah SWT akan membangkitkan Al-hajar (Hajar Aswad) pada hari kiamat. Ia dapat melihat dan dapat berkata. Ia akan menjadi saksi terhadap orang yang pernah memegangnya dengan ikhlas dan benar”.

4. Akan Kembali ke Surga

Hadist dari Siti Aisyah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Nikmatilah (peganglah) Hajar Aswad ini sebelum diangkat (dari bumi). Ia berasal dari surga dan setiap sesuatu yang keluar dari surga akan kembali ke surga sebelum Kiamat”.

Berdasarkan bunyi hadist-hadist itulah antara lain maka setiap jamaah haji baik yang mengerti maupun yang tidak mengerti tetapi ikut-ikutan, akan senantiasa menjadikan Hajar Aswad sebagai target beburu. Saya harus menciumnya. “Mencium Hajar Aswad!!!” Tapi apa bisa? Dua juta jamaah datang di musim Haji secara bersamaan dan antri untuk keperluan dan target yang sama.

Sunah membaca doa ketika mencium Hajar Aswad

Disunatkan membca doa ketika hendak Istilam (mengusap) atau melambainya pada permulaan Thawaf atau pada tiap putaran Thawaf, dengan membaca “Bismillahi Allohu Akbar”

Pernah Hilang

diriwayatkan oleh Ibnu Umar RA :

Dikisahkan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa waktu lamanya dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS ketika ia berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih kurang sedikit. Batu yang ditemukan inilah rupanya yang sedang dicari oleh Nabi Ibrahim AS, beliaupun serta merta sangat gembira dan tak henti-hentinya mencium batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba dekat Ka’bah, batu itu tak segera diletakkan ditempatnya. Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menggotong batu itu sambal memutari Ka’bah tujuh putaran.

Diangkut dengan Sorban Nabi Muhammad SAW

Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu Hajar Aswad adalah yang terjadi pada tahun 16 sebelum  Hijriyah (606 M) yaitu ketika kaum Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. Pada saat itu hampir saja terjadi pertumpahan darah yang hebat karena sudah lima hari lima malam mereka dalam situasi gawat, karena empat kabilah dalam suku Quraisy itu terus bersitegang pada pendapat dan kehendak masing-masing untuk mengangkat dan meletakkan kembali batu ini ke tempatnya semula karena pemugaran Ka’bah sudah selesai.

Akhirnya muncullah usul dari Abu Umayyah bin Mughirah Al-Mahzumi yang mengatkan;

“Alangkah baiknya kalau keputusan ini kita serahkan kepada orang yang pertama kali masuk Ka’bah pada hari ini”,

Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umayyah ini disepakati. Dan ternyata orang pertama masuk pada hari itu adalah Nabi Muhammad SAW bin Abdullah yang waktu itu masih berusia 35 tahun. Menjadi rahasia umum pada masa itu bahwa akhlak dan budi pekerti Nabi Muhammad SAW telah terkenal jujur dan bersih sehingga dijuluki Al-Amin (orang yang terpercaya) Nabi Muhammad muda, yang organ tubuhnya yaitu hatinya pernah dibersihkan lewat operasi oleh malaikat Jibril, memang sudah dikenal luas tidak pernah bohong dan tidak pernah ingkar janji. Lalu apa jawaban dan tindakan Nabi Muhammad terhadap usul itu?

Nabi Muhammad SAW menuju tempat penyimpanan Hajar Aswad itu lalu membentangkan sorbanya dan meletakkan batu mulia itu ditengah-tengah sorban kemudian meminta satu orang wakil dan masing-masing kabilah yang sedang bertengkar untuk memegang sudut sorban itu dan bersama-sama menggotongnya ke sudut dimana batu itu hendak diletakkan. Supaya adil, Nabi Muhammad pulalah yang memasang batu itu ketempat semula.

22 Tahun Hajar Aswad Direbut

Kisah lain yang sangat penting adalah yang terjadi pada musim Haji tahun 317 H. pada saat itu dunia Islam sangat lemah dan bercerai berai sehingga kesempatan ini dimanfaatkan oleh Abu Tahir Al-Qurmuthi seorang kepala salah satu suku di Jazirah Arab bagian timur untuk merampas Hajar Aswad. Dengan 700 anak buah bersenjata lengkap mendobrak Masjid Al-Haram dan membongkar Ka’bah secara paksa lalu merebut Hajar Aswad dan mengangkutnya ke negaranya yang terletak dikawasan Teluk Persia sekarang.

Kemudian ia membuat maklumat dengan menantang umat Islam ; silahkan mengambil  batu itu, boleh dengan perang atau dengan membayar sejumlah uang yang pada saat itu sangat berat bagi umat Islam. Baru setelah 22 tahun (tahun 339 H) batu itu dikembalikan ke Mekkah oleh Khalifah Abbasiyah Al-Muthi’lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 Dinar.

Terapung di Air

Dalam kitab Ikhbarul-Kiraam diterangkan bahwa ketika Abdullah bin Akim menerima batu dari pemimpin suku Qurmuth itu langsung dimasukkan ke dalam air dan tenggelam, kemudian diangkat dan dibakar ternyata pecah, maka ia menolak batu itu dan dinyatakan palsu. Dengan tenang pemimpin Qurmuth itu memberi yang kedua yang sudah dilumuri minyak wangi dan dibungkus dengan kain sutra yang sangat cantik. Namun Abdullah tetap menguji keasliannya dengan cara seperti yang pertama, ternyata juga palsu karena tenggelam di air dan pecah oleh api.

Akhirnya pemimpin suku Qurmuth memberikan yang betul-betul asli. Tapi oleh Abdullah batu inipun diperlalukan seperti yang sebelumnya, dan sungguh aneh tapi nyata bahwa batu yang ketiga itu tidak tenggelam malah terapung di atas air, ketika dibakar tidak pecah dan bahkan tidak terasa panas. Maka Abdullah dengan puas mengatkan;

“Nah inilah dia, batu kita.”

Dengan terheran-heran pemimpin Qurmuth bertanya:

“Darimana anda mendapatkan ilmu ini?”

Abdullah menjawab:

“Nabi pernah mengatakan, Hajar Aswad akan menjadi saksi tentang siapa-siapa yang pernah menyalaminya dengan niat baik atau tidak baik, Hajar Aswad juga tidak akan tenggelam dalam air dan tidak panas dalam api”.

“Inilah agama yang benar-benar tuntunan dari Allah SWT”, demikian pemimpin Qurmuth itu berkomentar.

Namun, kepada Abu Tahir Al-Qurmuthi, pemimpin Qurmuthb ini Allah SWT menurunkan siksa berupa penyakit yang sangat sulit diobati yaitu semacam lepra yang langsung lama dan tidak dapat disembuhkan. Akhirnya semua persendiannya terlepas dan matilah dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here