Beranda Umroh & Haji Sejarah Madinah Sebelum dan Sesudah Hijrah Nabi SAW

Sejarah Madinah Sebelum dan Sesudah Hijrah Nabi SAW

94
0
Sejarah Kota Madinah

Sejarah Madinah Sebelum dan Sesudah Hijrah Nabi SAW berawal dari kota yatsrib, yaitu salah satu dari 2 kota suci umat Islam di Arab Saudi yang terdapat Masjid Nabawi.

Pada zaman Nabi Muhammad SAW dan al-Khulaf al-Rasyidin (empat Khalifah pengganti Nabi), kota ini menjadi pusat dakwah dan basis pengembangan ajaran Islam sekaligus Ibukota kerajaan Islam pertama didunia.

Kota Madinah inilah agama Islam memancarkan cahaya Syariah Islamiyah sehingga diberi gelar Al Madinah Al Munawwarah yang artinya Madinah yang bercahaya.

Selain gelar tersebut, Madinah masih memiliki 93 nama lain diantaranya Madinah an-Nabi (Madinah kota Nabi), Madianah ar-Rasul (Madinah kota Rasul). Inilah adalah salah sataubukti dan tanda kebesaran sebuah kota.

Kesuburan Madinah

Tidak seperti kota Mekkah yang benar-benar gersang, di kota Madinah terdapat banyak areal tanah subur dan oase-oase (sumber air) yang dapat di tanami buah dan sayur-sayuran.

Kesuburan tanah itu tidak akan musnah atau berkurang tetapi akan terus bertambah dan berkembang mengimbangi pertumbuhan dan kebutuhan mukimin dan jamaah haji dan umrah yang datang ke kota Madinah. Ini karena tanah kota Madinah itu memiliki mu’jizat atau setidaknya berkah khusus karena Rasulullah SAW pernah memohon kepada Allah SWT sebagai berikut :

“Ya Allah, berilah kota Madinah ini dua kali keberkahan yang kau berikan kepada kota Mekkah”

Jadi semua yang ada dan tumbuh di Madinah memiliki nilai keberkahan dua kali yang ada di Mekkah. Padahal Mekkah sendiri sudah demikian besar berkahnya karena Allah SWT telah mengabulkan permintaan Nabi Ibrahim AS agar Mekkah tidak kekurangan dari segala kebutuhan hidup termasuk buah-buahan.

Kota Terpenting Kedua di Arab

Penduduk yatsrib sebelum kelahiran Islam dihuni oleh 2 suku bangsa yaitu Arab dan Yahudi. Secara bertahap kota itu berkembang menjadi kota terpenting kedua di Arab Saudi setelah kota Mekkah. Orang Yahudi membangun pemukiman, pasar dan benteng pertahanan agar mereka terhindar dari gangguan orang badui yang hidup secara nomaden di sekitar Yatsrib.

Pada saat permusuhan dan saling benci anatara Arab dan Yahudi semakin tajam, kaum Yahudi melakukan siasat pecah belah di antara suku Arab Aus dan Khazraj yang mencapai klimaksnya pada tahun 616 M, yaitu pada “perang Mua’as” tetapi kehadiran Nabi Muhammad SAW yang datang ke Yatsrib beberapa waktu kemudian untuk Hijrah, dapat menghentikan permusuhan antara dua suku.

Islam Diterima oleh Penduduk Yatsrib

Ketika rombongan jamaah haji dari Yatsrib datang untuk berhaji ke Mekkah pada tahun 620 M, Nabi Muhammad SAW datang secara khusus menemui suku Khazraj itu. Nabi memperkenalkan Islam dan mengajak mereka agar bertauhid kepada Allah SWT. Karena mereka sebelumnya sudah mendengarkan ajaran taurat dari Yahudi  Madinah yang berisi ajaran tentang hari kebangkitan, tentang nabi akhir zaman dan sebagainya maka ajakan Rasulullah SAW ini tidaklah asing bagi mereka. Maka serta merta mereka menerima ajakan Nabi Muhammad SAW dan segera memeluk Islam dan berjanji untuk mengajak penduduk Yatsrib masuk Islam.

Bai’at Aqobah

Pada tahun 621 M sebayak 10 orang suku Khazraj dan 2 orang suku Aus datang menemui Nabi Muhammad SAW, menyatakan masuk Islam dan melakukan Bai’at kepada Nabi di Aqobah (Bai’at Aqobah I). Pada musim Haji berikutnya (622 M.) sebanyak 73 orang jamaah haji dari Yatsrib (Madinah), baik yang sudah masuk Islam maupun yang belum, mengajak Nabi Muhammad SAW untuk Hijrah ke Yatsrib. Ajakan itu disamapaikan setelah mendengar bagaimana kafir quraisy terus menerus mengingkari seruan Nabi Muhammad SAW. Pertemuan dengan Nabi itu diadakan di Aqobah, (Bai’at Aqobah II)

Rasulullah SAW Hijrah ke Yatsrib

Beberapa bulan kemudian bersama sejumlah sahabat dan kaumnya yang sudah memeluk Islam, Nabi Muhammad SAW melakukan Hijrah ke Yatsrib. Hijrah ini merupakan peristiwa penting dalam sejarah Madinah sehubungan dengan pengembangan Islam karena dengan bantuan penduduknya (Kaum anshar) Islam bisa dikembangkan secara leluasa. Selanjutnya Nabi Muhammad SAW membangun Masjid yang mempersaudarakan kaum Islam pendatang dari Mekkah dengan kaum Islam Madinah berdasarkan ikatan Aqidah dan Ukhwah Islamiyah.

Piagam Madinah

Nabi Muhammad SAW juga mempersatukan penduduk Madinah baik Muslim maupun Yahudi dan penyembah berhala menjadi satu umat berdasarkan ikatan sosial politik dan kemanusiaan. Hal mana ditetapkan dalam Piagam Madinah yang terkenal itu dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :

  1. Persamaan
  2. Persaudaraan
  3. Persatuan
  4. Kebebasan
  5. Toleransi beragama
  6. Perdamaian
  7. Tolong menolong
  8. Membela kaum teraniaya
  9. Mempertahankan Madinah dari serangan musuh.

Penetapan ini berdasarkan kesepakatan yang dirumuskan dalam Piagam Madinah itu dapat diartikan sebagai proklamasi terbentuknya cika-bakal Negara Islam. Sejak itulah Madinah menjadi pusat pemerintah Islam dan Nabi Muhammad SAW sebagai kepala negaranya. Sepeninggal Nabi, Madinah terus dipertahankan sebagai pusat pengembangan ajaran Islam oleh para Khulafaur Rasyidin. Madinah sebagai pusat pemerintah Islam dan pengembangan ajara Islam seluruh dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here