Beranda Umroh & Haji Sejarah Masjid Jin

Sejarah Masjid Jin

72
0
Sejarah Masjid Jin

Sejarah Masjid Jin dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Tirmidzi yang berasal dari Ibnu Abbas, bermula dari peristiwa pertemuan antara Rasulullah SAW dan serombongan jin terjadi ketika sedang mengadakan perjalanan menuju Pasar Ukkadz.

Saat tiba di wilayah Tihamah, Rasulullah SAW melaksanakan Shalat Subuh yang menyebabkan terhalangnya berita-berita langit yang biasa dicuri dengar oleh bangsa jin.

Disebut Masjid Al-Jin, karena disitulah dahulu para Jin bersumpah, mengakui bahwa Muhammad Rasul Allah SWT.

Karena namanya yang unik mengundang para jamaah haji dari berbagai penjuru dunia merasa penasaran dan ingin mengetahui tentang sejarah Masjid Jin.

Tempat Bai’at Bangsa Jin

Ketika para Jin terhalang dari berita-berita langit, mereka tetap nekat mencuri berita langit bahkan sampai terkena lemparan bintang-bintang yang menyala. Karena kesal, bangsa jin berpencar ke seluruh penjuru bumi untuk mencari sumber penghalang tersebut. Serombongan bangsa jin tiba di wilayah Tihamah dan mendengar bacaan ayat Al-Qur’an Rasulullah SAW saat sedang menunaikan Sholat Subuh.

Mendengar lantunan ayat Al-Qur’an membuat hati para bangsa jin bergetar, hingga mereka memutuskan untuk menjadi muallaf. Para bangsa jin kemudian turun dan menghadap Nabi Muhammad SAW.

Bangsa jin melakukan baiat suci untuk beriman kepada Allah SWT, mengikuti ajaran Islam, dan menyebarkan agama Allah SWT dikalangan bangsanya. Atas peristiwa bersejarah tersebut akhirnya masjid ini dikenal dengan nama Masjid Al-Bai’ah atau yang lebih populer disebut Masjid Jin. Umat Muslim juga mengenalnya dengan nama Masjid al-Haras.

Gambaran Masjid Jin

Masjid ini berlantai tiga. Lantai basement digunakan untuk tempat wudhu dan toilet, lantai satu untuk tempat sholat jamaah pria dan lantai dua tempat sholat jamaah wanita.

Karena berlokasi di tengah kawasan pemondokan jamaah dan pertokoan, maka masjid ini pun selalu penuh ketika tiba waktu shalat fardhu.
Para jamaah biasanya berasal dari Turki, India, Afganistan, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia yang berusia lanjut dan tinggal di daerah ini biasanya menggunakan masjid ini untuk sholat dzuhur dan Ashar.

Masjid Jin terletak disebelah Maqam Ma’la sekitar 50 meter dan masjid ini sering dikunjungi oleh para jamaah Haji dan Umrah.

Ukuran bangunannya sedang saja, tidak terlalu besar. Tapi bentuknya cukup indah, berarsitektur modern, serta dilengkapi sebuah menara yang tidak terlalu tinggi.
Warna tembok kecoklatan. Sementara, di depan mesjid terdapat beberapa tangki berisi air Zam-zam untuk minum para pengunjung.

Bangunan masjid yang kini berdiri merupakan hasil renovasi terakhir pada lima tahun lalu atau pada 1421 Hijriyah. Bangunan masjid tersebut termasuk salah satu bangunan yang dipelihara oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi

Masjid Jin bercat krem, tampak menarik dengan dinding berhias keramik warna cokelat. Masjid semakin indah dengan kusen jendela berwarna biru dan di lantainya terhampar karpet bercorak garis-garis warna abu-abu.
Lampunya terang dengan bentuk lampu yang indah. AC-nya pun sangat sejuk. Di atap masjid bagian kubah dihias dengan tulisan kaligrafi Alquran Surat Al Jin.

Tempat Turunya Surat Al Jin

Di Masjid Jin inilah Allah SWT menurunkan ayat  Al Qur’an surat Al-Jin Ayat 1 dan 2 yang berbunyi:

قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ

Artinya:

Katakanlah (wahai Muhammad) :Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan Jin telah mendengar (bacaan) lalu mereka berkata: “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Qur’an)”.

يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ

Yang telah memberi petunjuk kepada jalan yang benar, bila kami beriman kepada-Nya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersukutukan sesuatupun dengan tuhan kami.

Kapasitas Masjid Jin

Karena sejarah yang menarik dan letak yang strategis maka masjid Jin selalu ramai dan penuh dipadati para jamaah dari berbagai penjuru, tak jarang akibat tak sanggup menampung jamaah yang telah memenuhi ruangan dalam, sebagian mereka harus shalat di halaman luar masjid.

Setiap datang musim haji, biasanya pengurus masjid mengadakan kegiatan ta’lim dan siraman rohani. Mereka mendatangkan sejumlah ustadz, baik yang merupakan imam masjid, serta ustadz dari Mekkah maupun Madinah. Secara bergantian, mereka mengisi ceramah ta’lim yang dilakukan pada ba’da dzuhur atau ba’da Maghrib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here