Beranda Doa-Doa Praktis Tafsir Ringkas Surat Al-Ikhlas Mudah Dipahami

Tafsir Ringkas Surat Al-Ikhlas Mudah Dipahami

92
0
Tafsir Ringkas Surat Al-Ikhlas Mudah Dipahami

Aminsaja.com Tafsir Ringkas Surat Al-Ikhlas Mudah Dipahami, Mengapa dinamakan Surat Al-Ikhlas padahal di dalamnya tidak ada kata Al-ikhlas? Karena Al-Ikhlas bermakna tauhid, beribadah hanya kepada-Nya. Dan surat ini berisi tentang pokok-pokok tauhid.

Asbabun Nuzul Atau sebab Turunnya surat Al-Ikhlas adalah saat orang-orang kafir bertanya tentang Tuhannya orang Islam. Maka turunlah surat tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan pada hadits berikut:

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ الْمُشْرِكِينَ قَالُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْسُبْ لَنَا رَبَّكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ

Artinya: “Dari Ubayy bin Ka’ab Ra, bahwa orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah SAW, “Sebutkan nasab Rabbmu kepada kami!”, maka Allah menurunkan: (Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa). (HR. Tirmidzi, No. 3364)

Riwayat lain menyebutkan, ada orang yang Badui yang datang kepada Rasulullah SAW lalu Dia bertanya, “Gambarkanlah kepada kami tentang Tuhanmu.” Maka turunlah surat ini.

Arti Surat Ikhlas Dari Setiap Ayat:

Ayat 1


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dialah Allah Yang Mahaesa.”

Ketika orang-orang Yahudi mengatakan, “Kami menyembah Uzair anak Allah.” Orang Nasrani mengatakan, “Kami menyembah Isa anak Allah.” Orang-orang musyrik mengatakan, “Kami menyembah berhala.” Maka Allah menegaskan bahwa Dia Maha Esa. Dialah Allah Tuhan Yang Satu, Yang tiada tandingan-Nya, tiada lawan-Nya, tiada sekutu bagi-Nya.

Kata ahad (أحد) diambil dari akar kata wahdah (وحدة) yang artinya kesatuan. Juga kata waahid (واحد) yang berarti satu. Kata ahad dalam ayat ini berfungsi sebagai sifat Allah yang artinya Allah memiliki sifat tersendiri yang tidak dimiliki oleh selain-Nya.

Menurut Sayyid Qutb, “qul huwallaahu ahad” merupakan lafal yang lebih halus dan lebih lembut daripada kata “ahad.” Sebab ia menyandarkan kepada makna “wahid” bahwa tidak ada sesuatu pun selain Dia bersama Dia dan bahwa tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya.

“Ini adalah ahadiyyatul-wujud, keesaan wujud. Karena itu tidak ada hakikat kecuali hakikat-Nya dan tidak ada wujud yang hakiki kecuali wujud-Nya. Segala maujud yang lain hanyalah berkembang atau muncul dari wujud yang hakiki itu dan berkembang dari wujud dzatiyah itu,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Zilalil Qur’an.

Ayat 2

اللَّهُ الصَّمَدُ

“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

Ibnu Abbas menjelaskan tafsir ayat ini. Maksudnya adalah, seluruh makhluk bergantung kepada Allah SWT dalam kebutuhan dan sarana mereka. Dialah Tuhan yang maha sempurna dalam perilaku-Nya. Mahamulia yang maha sempurna dalam kemuliaan-Nya. Maha besar yang maha sempurna dalam kebesaran-Nya.

Al Hasan mengatakan, arti ayat ini adalah Allah SWT Maha hidup lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.

Menurut Tafsir Al Misbah, ash shamad (الصمد) terambil dari kata kerja shamada (صمد) yang artinya menuju. Ash shamad merupakan kata jadian yang artinya “yang dituju.”

Sedangkan menurut Sayyid Qutb, arti ash shamad (الصمد) secara bahasa adalah tuan yang dituju, yang suatu perkara tidak akan terlaksana kecuali dengan izinnya. Allah SWT adalah Tuhan yang tidak ada Tuhan sebenarnya selain Dia. Dialah satu-satunya yang dituju untuk memenuhi segala hajat makhluk.

Ayat 3

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ayat ini adalah Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak mempunyai istri.

Sayyid Qutb menjelaskan, hakikat Allah itu tetap, abadi, azali. Sifatnya adalah sempurna dan mutlak dalam semua keadaan. Kelahiran adalah suatu kemunculan dan pengembangan, wujud tambahan setelah kekurangan atau ketiadaan. Hal demikian mustahil bagi Allah. Kelahiran juga memerlukan perkawinan. Lagi-lagi, ini mustahil bagi Allah.

Ayat 4

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”

Kata kufuwan (كفوا) terambil dari kata kufu’ (كفؤ) yang artinya sama. Tidak ada seorang pun yang setara apalagi sama dengan Allah SWT.

Dialah yang memiliki segala sesuatu dan yang menciptakannya, maka mana mungkin Dia memiliki tandingan dari kalangan makhluk-Nya yang bisa mendekati atau menyamai-Nya.

Menurut Sayyid Qutb, makna ayat ini adalah, tidak ada yang sebanding dan setara dengan Allah SWT. Baik dalam hakikat wujudnya maupun dalam sifat dzatiyahnya.

Demikian Tafsir surat Al Ikhlas yang mempunya Keistimewaan dan keutamaan luar biasa.

Wallohu A’lam Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here