Beranda Umroh & Haji Tata Tertib Pelaksanaan Haji

Tata Tertib Pelaksanaan Haji

73
0
Tata Tertib Pelaksanaan Haji

Aminsaja.com Tata Tertib Pelaksanaan Haji. Gambaran tata tertib pelaksanaan manasik haji selama 6 hari “8 sampai 13 dzil hijjah”, mulai dari yang rukun, wajib, serta sunnah-sunnahnya, dengan cara yang afdhal:

PERSIAPAN DARI HOTEL/RUMAH

Pertama sekali, sesudah shalat dhuhur tanggal 7 dzul hijjah, sunnah bagi ketua pimpinan berceramah memberitahukan segala sesuatu yang harus disiapkan oleh jemaah haji, mulai dari fisik jasmani-rohani dan keperluan lainnya, juga menjelaskan tata cara dan keafdhalan bertarwiyah dahulu ke Mina tanggal 8 sebelum melaksanakan wuquf di Arafah pada tanggal 9 dzul hijjahnya.

KE MINA UNTUK BERTARWIYAH

Mulai pagi tanggal 8 – sampai – pagi tanggal 9 dzul hijjah, sebaiknya ketika ingin bertarwiyah ke Mina, maka yang afdhal “niat ihram hajinya” dilakukan mulai pagi waktu dhuha tangal 8 dzul hijjah bagi mukimin mekah dan sekitarnya, juga bagi jemaah pendatang yang berhaji tamattu’ dan mampu membayar dam tamattu’nya dengan menyembelih kambing. Adapun jemaah pendatang yang berhaji ifrad dan qiran, tentu mereka sudah berada dalam ihram haji yang niatnya sudah dilakukan dari Miqat Afaqi mulai pertama datang.

Setelah itu, semuanya berangkat bertarwiyah ke Mina, dengan banyak bertalbiyah, shalat lima waktunya mulai dhuhur – sampai – shubuh tanggal 9 dzul hijjah, di lakukan dimasjid Khaif di Mina jika memungkinkan.

KE ARAFAH UNTUK WUQUF DAN KE MUZDALIFAH UNTUK BERMALAM

Pagi tanggal 9 sampai pagi tgl 10 setelah terbit matahari tanggal 9 dzul hijjah, berangkat dari Mina menuju Arafah dengan banyak bertalbiyah. setelah masuk dhuhur (dan sebelum shalat), sunnah bagi ketua pimpinan berceramah diarafah melalui 2 khuthbah ringkas, menjelaskan tata cara wuquf yang afdhal. setelah itu barulah shalat dhuhur atau dengan ashar dijama’ taqdim saja atau diqashar secara berjemaah. Ini semua sebaiknya dilakukan diluar tanah Arafah seperti dikawasan masjid Namirah yang lama, sekiranya memungkinkan). kemudian setelah selesai shalat, barulah “berwuquf” dibawah pinggiran jabal Rahmah dari arah timur dengan banyak berdzikir, baca Al Qur’an, bertalbiyah, istighfar dan berdoa kebaikan dunia akhirat.

Setelah masuk waktu Maghrib malam 10, bersiap-siap keluar dari Arafah menuju Muzdalifah dengan banyak bertalbiyah. Adapun shalat maghrib dan isya’nya lebih baik dijamak ta’khir kemuzdalifah (sekiranya memungkinkan). jika tidak, maka shalat diarafah secara biasa dan sempurna diwaktunya masing-masing bagi jemaah yang bukan musafir jauh). pastikan “bermalam dimuzdalifah melewati jam separuh malam” (dan didaerah masjid al masy’aril haram jika memungkinkan. dan yang afdhal sunnah menunggu sampai shalat shubuh dimuzdalifah, dengan banyak berdoa dan mengambil 7 batu kerikil untuk melontar jumrah Aqabah di mina.

KE MINA UNTUK MELONTAR JUMRAH AQABAH DAN TAHALLUL AWWAL, TERUS KE MASJIDIL HARAM UNTUK TAHALLUL TSANI DENGAN MELAKUKAN THAWAF HAJI DAN SAIENYA

Pagi tanggal 10 sampai siang tanggal 13 sebelum terbit matahari, sunnah sudah bergerak dari muzdalifah menuju mina dengan banyak bertalbiyah dan berjalan cepat didaerah lembah muhassir (kawasan dimana Allah menurunkan siksaan burung ababil kepada Raja Abrahah dan pasukannya penunggang gajah, berada di antara muzdalifah dan mina). Setibanya dimina cepat “melontar jumrah aqabah 7 kali” dan yang afdhal diwaktu dhuha. (kesunnahan bertalbiyah berakhir ketika memulai melontar jumrah Aqabah ini). Setelah jumrah aqabah selesai, lakukan “gunting rambut dan yang paling afdhol botak bagi jemaah laki-laki dengan niat tahallul awwal, setelah itu, semua larangan ihram boleh di lakukan, kecuali nikah, jima’ dan pendahulu2 jima’. Pada hari itu juga (tanggal 10 pagi), datang kemasjidil haram untuk “thawaf ifadhah/thawaf haji dan saienya jika belum saie setelah thawaf qudumnya bagi jemaah yang berhaji ifrad atau qiran”. setelah semuanya selesai (jumrah aqabah-gunting rambut-thawaf-saie), maka sudah dinamakan tahallul tsani tanpa harus gunting rambut lagi setelah selesai thawaf saienya. sesudah itu, semua larangan ihram dibolehkan tanpa terkecuali.

KEMBALI KE MINA DI 3 MALAM DAN HARI TASYRIQ UNTUK BERMALAM DAN MELONTAR 3 JAMARAT

kemudian kembali lagi ke mina pada hari itu juga (hari 10 siang). dan setelah shalat dhuhur dimina, sunnah bagi ketua pimpinan berceramah menjelaskan tata cara yang afdhal bermalam dan melontar di mina. Setelah maghrib malam 11 dzul hijjah/malam tasyriq pertama, waktu bermalam di mina sudah masuk, pastikan “bermalam di mina melebihi separuh malam (lebih kurang 6 jam)” (dan sunnah didaerah masjid khaif jika memungkinkan). pada siang hari tanggal 11 setelah dhuhur (dan sebelum shalat), “sunnah bersegera melontar semua 3 jumrah dimulai dari jumrah ula 7 kali, wustha 7 kali, aqabah 7 kali” dengan batu kerikil yang diambil dari tanah haram (untuk mendapat keafdhalan). Di malam ke 12 wajib bermalam lagi dan di siang hari ke 12 setelah waktu dhuhur dan sebelum shalat, “melontar lagi ke 3 jumrah itu” dengan tata cara seperti dihari ke 11.

Setelah selesai shalat dhuhur dihari 12, dan jumrahnya sudah dilakukan, sunnah bagi ketua pimpinan berceramah lagi menjelaskan bagi yang ingin bernafar awwal (maksudnya ambil sampai hari ke 12 saja di mina), sudah selesai semua rangkaian manasik hajinya dan harus keluar berniat nafar/meninggalkan mina sebelum terbenam mata hari pada maghrib malam ke 13. Dan bagi yang ingin bernafar tsani (maksudnya ambil sampai hari ke 13 di mina -dan ini cara yang lebih afdhal -, “wajib bermalam lagi dimalam 13 dan melontar lagi 3 jumrah tersebut disiang hari ke 13 sesudah dhuhur”. setelah itu, selesai semua rangkain manasik haji.

Semoga maqbul mabrur, amien

Hanya tinggal nunggu “kewajiban thawaf wada'” sebelum meninggalkan tanah suci mekah (idhah263-374)

Wallahu A’lamu Bissowab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here