Beranda Keutamaan Hakekat Akhlak Yang Baik

Hakekat Akhlak Yang Baik

84
0

Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunya suatu masyarakat tergantung bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir dan batinnya, apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir dan batinnya.

Didalam bukunya Drs. M. Yatimin Abdullah, M.A menuliskan. Akhlak menurut bahasa (etimologi) perkataan akhlak ialah bentuk jamak dari khuluk (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Akhlak disamakan kesusilaan, sopan santun. Khuluk merupakan gambaran sifat batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh. Sedangkan dalam bahasa Yunani khuluq ini disamakan dengan kata ethicos atau ethos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin, kecendrungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethhicoskemudian berubah menjadi etika. 

Dilihat dari sudut istilah (terminologi), para ahli para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama yaitu tntang prilaku manusia. Pendapat-pendapat para ahli tersebut dihimpun sebagai berikut.

  1. Abdul Hamid mengatakan akhalak ialah ilmu tetang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwannya terisi dengan kebaikan, dan tentang keburukan yang harus dihindarinya sehingga jiwanya kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan.
  2. Ibrahim Anis mengatakan akhlak ialah ilmu yang obyeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia, dapat disifatkan dengan baik dan buruknya.
  3.  Soegarda Poerbawatja mengatakan akhlak ialah budi pekerti, watak, kesusilaan, dan kelakuan baik yang merupakan akibat dan sikap jiwa yang benar terhadap khaliknya dan terhadap sesame manusia.
  4. Imam Ghazali mengatakan akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
  5. Ibnu Miskawaih (w. 1020 M) mendefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia, yang berbuat dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran atau pertimbangan (kebiasaan sehari-hari).

Khuluq atau akhlaq berarti suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat didalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya, secara mudah dan ringan, tanpa perlu dipikirkan atau direncanakan sebelumnya.  Maka apabila dari perangai tersebut timbul perbuatan-perbuatan yang baik dan terpuji menurut akal sehat dan syariat, dapatlah ia disebut perangai atau khuluq yang baik dan. Sebaliknya, apabila yang timbul darinya adalah perbuatan-perbuatan yang buruk, maka disebut khuluq yang buruk pula.

Menurut Imam al-Ghazali, bahwa akhalak yang disebutnya dengan tabiat manusia dapat dilihat dalm dua bentuk, yaitu :

1) tabiat-tabiat fitrah, kekuatan tabiat pada asal kesatuan tubuh dan berkelanjutan selama hidup. Sebagai tabiat tersebut lebih kuat dan lebih lama dibandingkan dengan tabiat lainnya. Seperti tabiat syahwat yang ada pada manusia sejak ia dilahirkan, lebih kuat dan lebih sulit diluruskan dan diarahkan dibandingkan tabiat marah.

2) Akhlak yang muncul dari perangai yang banyak diamalkan dan ditaati, sehingga menjadi bagian dari adat kebiasaan yang berurat berakar pada dirinya.

Akhlak menurut pengertian Islam adalah salah satu dari iman dan Ibadat, karena iman dan Ibadat manusia tidak sempurna kecuali dari situ sendiri muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalm Islam bersumber pada iman dan taqwa dan mempunyai tujuan langsung, yang dekat yaitu harga diri dan tujuan jauh, yaitu ridho Allah SWT.

Adapun ciri-ciri akhlak Islam antara lain :

1) Bersifat mnyeluruh (universal). Akhlak Islam adalah suatu metode (minhaj) yang sempurna, meliputi seluruh gejala aktivitas biologis perorangan dan masyarakat. Melipti segala hubungan manusia dalam segala segi kehidupannya, baik hubungan dengan Tuhan, dengan manusia, makhluk lainnya dan dengan alam.

2) Ciri-ciri keseimbangan Islam dengan ajaran-ajaran dan akhlaknya menghargai tabiat manusia yang terdiri dari berbagai dimensi memperhatikan seluruh tuntutannya dan kemaslahatan dunia dan akhirat.

3) Bersifat sederhana. Akhlak dalam Islam berciri kesederhanaan dan tidak berlebihan pada salah satu aspek. Ciri ini memastikan manusia berada pada posisi pertengahan, tidak berlebih-lebihan dalam suatu urusan dan tidak pula bakhil.

4) Realitis. Akhlak Islam sesuai dengan kemampuan manusia dan sejalan dengan naluri yang sehat. Islam tidak membebankan manusia kecuali dengan kemampuaanya dan dalam batas-batas yang masuk akal.

5) Kemudahan. Manusia tidak dibebani kecuali dalam batas-batas kesanggupan dan kekuatannya, ia tidak dianggap bertanggung jawab dari akhlak (moral) dan syara kecuali jika berada dalam keamanan, kebebasan dan kesadaran akal yang sempurna.

6) Mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan dan perbuatan, teori, dan praktek.

7) Tetap dalam dasar-dasar dan prinsip-prinsip akhlak umum. Akhlak Islam kekal sesuai dengan zaman dan cocok dalam segala waktu ia tidak tunduk pada perubahan dan pertukaran sesuai dengan hawa nafsu.

Lebih indah dari yang anda kira

Pertanyaan Pembuka

Dalam wahy al- Qalam, al- Rafi’i menuturkan, “Seandainya aku diminta untuk merangkum filosofi seluruh ajaran Islam dalam dua kata, maka akan kukatakan: kekukuhan akhlak. Seandainya filosofi terbesar dunia diminta untuk meringkas solusi bagi seluruh umat manusia dalam dua kata, pastilah ia berkata sama: kekukuhan akhlak. Andaikan seluruh ilmuan Eropa berkumpul untuk mempelajari peradaban Eropa, lalu mengutarakan apa yang betul-betul sulit diraih, mereka akan berkata, ‘kekukuhan akhlak.’’’ Sekarang, merilah kita hiasi diri dan kehidupan kita dengan akhlak mulia.

Namun, sebelum memulai kita patut bertanya: Mengapa harus akhlak? Apa tujuan dan manfaat mempelajari akhlak bagi kita?

Dengan izin Allah, akhlak kita akan mempelajari empat tujuan akhlak. Bacalah dan pahamilah uraian berikut dengan hati terbuka .

Tujuan Mempelajari Akhlak

Pertama, tujuan diutusnya Nabi saw.

Kita mempelajari akhlak karena ia merupakan tujuan diutusnya Nabi SAW. Mungking engkau terkejut. Jangan terkejut dan heran?!

Nabi SAW. Bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Mungkin engkau bertanya,”Apa ini logis? Benarkah Nabi saw diutus demi Menata akhlak?”Bacalah hadist tersebut sekali lagi lalu renungkan!

Apa korelasi Antara ini dan itu…?

Aku ingin bertanya kepadamu tentang satu hal, “Menganpa Nabi diutus?” untuk menjawabnya, Allah Swt. Berfirman,” kami tidak mengutus (wahai Muhammad) kecuali sebgai rahmat bagi alam semesta.”

Renungkanlah ayat diatas! Mari kita berfikir. Seandainya kecurangan, tipu daya, penghianatan, dan berbagai kejahatan merajalela dalam sebuah masyarakat, apakah masyarakat semacam ini akan diliputi rahmat? Bayangkan sebuah keluarga diliputi rasa benci, dengki, dan dendam. Dimanakah rahmat itu ada?

Jelas ada sebuah korelasi amat erat antara hadist, “Aku diutus untuk menyempurnkan kemuliaan akhlak” dan firman Allah, “kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” Ketahuilah, tidak ada rahmat bagi alam semesta kecuali dengan akhlak.

Apakah engkau sependapat 

Tampaknya engkau berkata,”tentu saja aku setuju dengan hadist Nabi SAW., ‘Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.’ Namun, bukanlah ibadah lebih utama? Apakah menurutmu akhlak lebih penting dari pada sholat, puasa, doa, dzikir, haji, dan seterusnya?

Jawabanku,”Ya, akhlak memang lebih penting. Sebab, tujuan utama seluruh ibadah adalah membenahi akhlak. Kalua tidak, ibadah tersebut akan jadi semacam latihan olahraga saja!”

Kuharap engkau bisa memahami maksudku secara benar. Jangan mencampuradukan urusan fikih dengan aqidah, dan seterusnya. Pahamilah subtansinya, jangan zhohirnya

Shalat menata Akhlakmu

Allah Swt. Berfirman, “Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat mencegahmu dari perbuatan keji dan mungkar.”

Subhanallah jadi, siapa yang shalatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, berarti shalatnya itu hanya berupa Gerakan olahraga. Ia mengerjakan shalat, tetapi akhlaknya tidak membaik.

Dalam hadist qudsi Allah Swt. Berfirman,”Aku hanya menerima shalat dari orang yang dengannya ia tawadu’ pada keaganggungan-ku, tidak menyakiti makhluk-ku, berhenti bermaksiat pada-ku melewati siangnya dengan dzikir pada-ku, serta mengasihi orang fakir, orang yang sedang berjuang dijalan-ku, para janda, dan orang yang ditimpa musibah.”

Bukanlah engkau melihat hubungan antara ibadah (shalat) dan akhlak (sikap tawadu’ dan kasih sayang). Sadarilah, jika shalatmu tidak membuatmu memiliki rasa kasih sayang terhadap orang lain berarti shalatmu tidak menghasilkan buahnya secara sempurna.

Demikian pula zakat

Allah Swt. Berfirman,  “Ambillah zakat dari sebagaian harta mereka yang dengan zakat tersebut engkau membersihkan dan menyucikan mereka.”

Subhanallah! Tujuan zakat adalah untuk menyucikan. Makna menyucikan adalah mendidik dengan akhlak yang baik. Bukanlah engkau melihat tujuan zakat juga terkait dengan akhlak?

Orang yang mengeluarkan zakat akan belajar mengasihi dan bermurah hati. Demikianlah, ibadah mengalir menuju akhlak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here